Waduk Jatigede Sumedang Jawa Barat. (Foto: pu.go.id)

Waduk Jatigede Sumedang Jawa Barat. (Foto: pu.go.id)

Bi Away Nur Kurnia memilih bertahan, meski air di dalam rumah sudah menggenangi hingga lehernya. Bi Away warga Kabuyutan Cipaku, Sumedang, Jawa Barat menjadi salah satu korban hadirnya bendungan Jatigede. Tepat pada 31 Agustus tahun lalu, pemerintah memutuskan mulai menenggelamkan kawasan itu. 

Sedikit demi sedikit air mulai menenggelamkan puluhan desa di wilayah itu. Tapi Bi Away tak beranjak. Perempuan itu tengah menjalankan pesan leluhurnya, “selama air belum sampai ke tangga rumah atau golodog, maka pantang untuk pergi”. Air pekan ini sudah melewati golodog rumah, tapi Bi Away bergeming.

Cicit pendiri Cipaku itu tengah menjalankan semangat Darma Tukuh Cipaku Bakti. Salah satu kearifan lokal dari leluhur Kabuyutan Cipaku adalah berserah diri. Istilah yang mereka gunakan adalah Cicingkeun, Pageuhken dan Kukuhkeun yang artinya diamkan, kuatkan dan kokohkan. Dari situlah sebutan Cipaku yang berasal dari suku dari ketiga kata itu.

Kini keyakinan mereka pada leluhur tengah diuji. Bulan depan direncanakan waduk sudah akan berfungsi optimal untuk pengairan, perikanan dan juga pembangkit listrik tenaga air. Pemerintah mesti memperhatikan keberadaan Bi Away dan warga Kabuyutan Cipaku. Jangan sampai warga setempat, sudah kehilangan tempat tinggal, sumber penghidupannya, tak dapat merasakan manfaat apapun dari keberadaan waduk.

Pembangunan semacam itu hanya melahirkan darah dan air mata dari rakyatnya. Pemerintah boleh saja mengklaim ganti rugi sudah diberikan. Karena sesungguhnya bukan itu yang diinginkan dan dibutuhkan warga. Uang yang diberikan seberapapun besar pun tak akan menggantikan kehilangan jati diri lantaran dicabut dari tanah leluhurnya. Sepatutnya kepada mereka juga diberikan jaminan hidup dan penghidupan yang baru.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!