Ilustrasi. (KBR/Danny)

Ilustrasi. (KBR/Danny)

Sekali lagi negara gagal memberikan perlindungan bagi kelompok rentan. Pondok pesantren khusus waria Al Fatah di Kotagede Yogyakarta memilih menutup kegiatan mereka. Pekan lalu ponpes didatangi segerombolan orang yang menamakan dirinya Front Jihad Islam Yogyakarta. Pengurus ponpes takut dengan aksi kelompok ini.

Front Jihad Islam dikenal kerap melakukan aksi kekerasan. Beberapa waktu lalu mereka membubarkan paksa perkemahan 1500 siswa kristen di bumi perkemahan Wonogodang, Sleman. Mereka menuding kegiatan itu sebagai kristenisasi, padahal jelas-jelas kegiatan itu dilakukan internal. Gerombolan itu lantas menurunkan spanduk acara, memblokir jalan dan mencegah peserta masuk ke lokasi yang berada di kaki gunung Merapi. Panitia lantas membubarkan acara itu.

Kelompok ini juga tercatat pernah berusaha menyerang Gereja Baptis Indonesia di Bantul. Beruntung polisi tanggap dan memblokade jalan sehingga massa FJI tak sampai ke lokasi. Mereka menuntut peribadatan dihentikan dan papan nama gereja diturunkan. Alasannya tak ada izin.

Dan kini korban berikutnya pondok pesantren waria Al Fatah. Meski mereka tak melakukan aksi kekerasan, catatan buruk itu membuat pengurus pondok trauma dan memilih menutup kegiatan. Apalagi tak ada perlindungan berarti dari kepolisian setempat. Walhasil absennya negara membuat pengurus memilih menutup diri.

Tak hadirnya negara dalam banyak tekanan membuat intimidasi terus terjadi. Ini diperparah dengan komentar para pejabat negara yang membuat pernyataaan diskriminatif dan memberi cap buruk pada kelompok seperti LGBT. Pernyataan-pernyataan itu seperti menjadi bahan bakar bagi tindakan-tindakan penekanan.

Kita mendesak Presiden Joko Widodo untuk memerintahkan jajarannya agar tak membuat pernyataan yang bisa memancing aksi kekerasan. Kapolri juga mesti diperintahkan agar melindungi LGBT dan kelompok minoritas lainnya dari ancaman dan gangguan serta menindak pelakunya.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!