Ilustrasi. (KBR/Rafik)

Ilustrasi. (KBR/Rafik)

Akhir tahun lalu, ribuan warga di Kabupaten Kebumen Jawa Tengah berkumpul di Desa Sikayu, Kecamatan Buayan. Mereka berdialog dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dan pejabat Bupati Kebumen.

Dialog itu membahas kabar yang sudah meresahkan warga sejak beberapa tahun lalu, yaitu rencana pembangunan tambang karst atau kapur dan pabrik semen di kawasan Pegunungan Karst Gombong Selatan. Penolakan warga yang kencang selama bertahun-tahun akhirnya membuat Menteri Lingkungan mendatangi lokasi itu.

Dialog itu menyepakati perlunya ada usulan penghentian sementara atau moratorium pemberian izin tambang karst di seluruh wilayah di Jawa. Usulan muncul dari Menteri Siti Nurbaya, dan akan disampaikan ke Presiden Joko Widodo.

Tapi moratorium izin tambang karst tak kunjung muncul. Justru Badan Penanaman Modal di Kabupaten Kebumen kini kabarnya sedang aktif membantu proses perizinan lingkungan bagi PT Semen Gombong untuk mendapat izin dari Gubernur Jawa Tengah. Perusahaan itu mengajukan permintaan izin pembangunan tambang kapur dan pabrik semen seluas lebih dari 300 hektar di Kecamatan Buayan.

Penolakan pabrik semen Gombong Kebumen, terus muncul sampai kini, menjelang diprosesnya permohonan izin lingkungan pabrik itu.

Kawasan bentang alam karst Gombong Selatan sudah ditetapkan sebagai kawasan eco-karst oleh Kementerian Energi Sumber Daya Mineral dan dikukuhkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kawasan ini merupakan karst terumbu yang dilarang untuk ditambang.

Karst Gombong merupakan areal tangkapan air hujan terbaik. Bahkan, Pejabat Bupati Kebumen menyebut kawasan karst di sini mebentuk sistem hidro geologi paling unik se-Asia Pasifik. Setiap meter kubik karst bisa menyimpan ratusan liter air. Pegunungan karst merupakan tandon air terbesar di bumi.

Penolakan pembangunan pabrik semen dan tambang kapur di kawasan pegunungan karst sebelumnya ramai di banyak daerah, seperti Rembang, Pati, Aceh Tamiang, Sukabumi, dan lain-lain. Bukan karena mereka tidak butuh semen. Tetapi dibanding semen, warga lebih memilih air dan lingkungan yang lestari. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!