Mewaspadai Zika

Penting bagi pemerintah untuk memberikan rasa aman. Ini bukan soal sepele.

Senin, 01 Feb 2016 10:00 WIB

Foto: Dinkes Tulungagung

Foto: Dinkes Tulungagung

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Hari ini, satuan tugas khusus dari Badan Kesehatan Dunia WHO akan memutuskan apakah virus Zika masuk kategori darurat global atau tidak. Ini menunjukkan ada kekhawatiran bahwa Zika bakal jadi pandemi global. Sebelumnya, WHO memberlakukan status ini ketika terjadi wabah Ebola di Afrika Barat.

Kata Pemerintah, masyarakat tak perlu cemas berlebihan soal virus Zika. Sampai saat ini paling tidak belum ditemukan laporan penularan virus Zika. Pemerintah pun belum mengeluarkan peringatan perjalanan terkait ini.

Tapi penting juga bagi pemerintah untuk memberikan rasa aman. Ini bukan soal sepele. Indonesia sebagai negara tropis punya potensi penularan virus Zika. Sampai saat ini belum ada vaksin atau pengobatan untuk Zika. Menurut WHO, virus ini sudah menyebar ke lebih dari 20 negara. Virus ini punya gejala penyakit mirip dengan demam berdarah, penyebarannya pun sama-sama oleh nyamuk Aedes Aegepty. Dan kita tahu pula, di tanah air penanganan DBD selalu berkejaran dengan waktu dan pencegahan pun seringkali terlambat dilakukan.

Supaya kita tak panik, maka perlu penjelasan yang terbuka dan jelas. Apa dampak virus Zika ini jika betul-betul sampai ke Indonesia? Apa dampaknya untuk bayi, anak atau dewasa? Informasi sejauh ini berasal dari Brazil. Dampak virus Zika terlihat pada bayi yaitu mengalami mikrosefali, atau ukuran otak dan kepala yang lebih kecil. Pemerintah Brazil bahkan sampai melarang perempuan di sana untuk hamil saat ini.

Pemerintah mesti pegang kendali sejak awal. Memberi informasi yang tepat, memberikan alternatif solusi serta menerapkannya dengan cepat dan efisien. Ini adalah ujian bagi kecepatan Pemerintah mencari informasi sebanyak mungkin soal virus Zika, sekaligus mengkomunikasikannya kepada publik. Pemerintah bisa berkaca pada pengalaman menghadapi flu burung – meski mengawasi unggas jauh lebih mudah ketimbang mengawasi nyamuk, sebagai perantara virus Zika. Atau bisa juga belajar dari wabah Ebola di Afrika Barat.

Dengan informasi yang masih serba sedikit soal Zika, kita juga mesti bergerak cepat. Segera lakukan 3M di rumah Anda: mengubur, menguras dan menutup. Tempat penampungan air mesti dikuras serta ditutup, dan barang bekas dikubur. Kita sungguh berkejaran dengan waktu. Jangan sampai kita lalai menghadapi Zika.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Stasiun Bogor Kebanjiran Wisatawan Lokal

  • Libur Lebaran, Puncak Macet 6 KM
  • Muncul ke Publik, Duterte Sebut Sepupunya Tewas di Marawi
  • Inter Lepas Penyerang Masa Depan Brasil, Gabigol

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?