Novel Baswedan. (KBR)

Novel Baswedan. (KBR)

Pekan lalu penyidik KPK Novel Baswedan ditawari sejumlah jabatan di perusahaan BUMN. Belum diketahui siapa yang punya ide ini, yang jelas, tawaran sampai ke Novel lewat para atasannya, yaitu pimpinan KPK. Novel bahkan bebas pilih BUMN yang mana. Sebagai gantinya, Novel keluar dari KPK.


Kalau menurut versi Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, ini bukan tawar-menawar, melainkan solusi alternatif.  Ini demi kepentingan yang lebih besar dalam pemberantasan korupsi, kata Saut. Menurut dia, KPK harus menjadi lebih efisien, dan salah satunya adalah dengan tidak dibayang-bayangi kasus masa lalu. Novel dan kasusnya dianggap berpotensi membuat KPK karatan. Selain itu, mengoper Novel ke BUMN juga dianggap sebagai upaya mencegah korupsi di tempat tersebut.


Tak mudah memutus hubungan sebab akibat antara kasus yang dihadapi Novel sekarang dengan kasus terdahulu. Novel dibelit kasus penembakan tersangka pencurian sarang burung walet pada 20014. Saat Tudingan ini merebak pada 2012, saat KPK tengah menyidik kasus korupsi yang menjerat Kepala Korps Lalu Lintas, Djoko Susilo. Kasus kembali diungkin saat KPK menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka. Dan karena itu juga, BG batal dilantik sebagai Kapolri.


Ada barter di sana? Yang jelas, kredibilitas KPK dan sikap segenap jajaran pimpinannya yang baru tengah diuji di sini. Apakah mau melepaskan penyidiknya demi apa yang mereka sebut sebagai ‘agenda pemberantasan korupsi yang lebih besar’? Atau bertahan dan melawan apa pun yang berupaya menggoyang KPK?


Yang sudah pasti adalah sikap Novel: menolak pindah dari KPK. Pengacara Novel juga menduga ini ada kaitan dengan barter penyelesaian kasus yang tengah dihadapi Novel. Menerima tawaran itu sama artinya dengan mengakui kesalahan yang dituduhkan kepadanya. Dan ini sama dengan membuktikan bahwa kasus Novel Baswedan ini bukan perkara hukum, tapi soal politik. Tawaran pindah ke BUMN justru rawan membuat KPK menyerah. 


Di tengah gempuran kencang terhadap KPK, sikap ini tak memberi nilai lebih pada lembaga antirasuah ini. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!