Mau Sampai Kapan?

Urusan moral tiba-tiba seperti menjadi lebih penting dibandingkan kemanusiaan. Tiba-tiba ada ketakutan jika ada LGBT di antara kita.

Senin, 29 Feb 2016 10:00 WIB

Foto: Kontras

Foto: Kontras

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Ini baru mau masuk bulan ketiga di 2016. Tapi kita seperti hendak menghadapi tahun yang suram dengan apa yang terjadi di sekitar kita.

Soal LGBT, sampai sekarang belum selesai juga. Sejak Menristek Mohammad Nasir menyebut kalau LGBT tak boleh masuk kampus, gulirannya tak kunjung selesai juga. Tiba-tiba kita dirundung dengan kerangkeng moralitas yang begitu menghimpit. Mendadak cara pandang kita menjadi begitu sempit. Seolah-olah semua hal itu terkait seksualitas. Seolah-olah orientasi seksual itu tak ubahnya virus flu yang bisa menyebar lewat udara.

Urusan moral tiba-tiba seperti menjadi lebih penting dibandingkan kemanusiaan. Tiba-tiba ada ketakutan jika ada LGBT di antara kita. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, LGBT memang ada di sekitar kita. Mereka nyata, hidup, bernafas dan berstatus warga negara seperti yang lainnya. Tapi mendadak mereka berbeda, atau harus dibedakan. Entah atas dasar apa.

Mendadak semua adalah soal ketakutan. Takut pada LGBT. Takut pada bagian tubuh tertentu sehingga perlu disensor dan diblur. Akal sehat seperti sedang ditinggalkan ketika kita mesti ketakutan akan gambar puting sapi yang sedang diperah, sehingga gambar itu pun di-blur dari layar kaca.

Termasuk juga ketakutan atas apa pun yang diberi label ‘kiri’. BelokKiri Fest terpaksa mesti hijrah ke kantor LBH Jakarta karena polisi tak mengeluarkan izin. Sekelompok organisasi menentang keberadaan festival ini, karena dianggap ‘berbau komunis’. Kebebasan berekspresi, berpendapat adalah dasar mengapa diskusi macam ini justru harus tetap jalan. Tapi sepertinya itu tak digubris. 

Atas nama ketakutan, kita tidak akan pernah maju. Apalagi jika kita tidak benar-benar bisa menjelaskan apa yang membuat kita takut. Mau sampai kapan kita membelenggu diri sendiri dengan penjara ketakutan yang diada-adakan sendiri?

Indonesia terlalu besar dan kaya untuk dikorbankan demi ketakutan seperti ini.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.