Izin Ekspor Freeport

PT Freeport Indonesia akhirnya mengantongi izin ekspor konsentrat atau bahan mentah selama enam bulan ke depan.

Kamis, 11 Feb 2016 09:30 WIB

Foto: Antara

Foto: Antara

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

PT Freeport Indonesia akhirnya mengantongi izin ekspor konsentrat atau bahan mentah selama enam bulan ke depan. Sebelumnya, per 29 Januari, Freeport Indonesia berhenti mengekspor karena jatah waktunya habis. Menurut Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), izin diberikan karena Freeport bersedia membayar 5 persen bea keluar –sebelumnya hanya 1 persen saja.
 
Kesepakatan ini, jelas-jelas melanggar Undang-Undang tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba). Di situ disebutkan izin ekspor konsentrat hanya bisa dilakukan jika perusahaan tambang telah membangun smelter minimal 60 persen. Yang dilakukan Freeport, sungguh jauh panggang dari api. Smelter Freeport yang berada di Gresik, baru mencapai 14 persen.

Sesungguhnya, pemerintahan Jokowi kali ini, telah melakukan pelanggaran atas dirinya sendiri –begitu pula yang dialami pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Pemerintah sebagai pembuat Undang-Undang justru melanggar aturannya sendiri. Dan, kalau sudah begini, maka pupus sudah ketegasan pada Freeport yang selama ini diharapkan.

Yang juga perlu diwaspadai adalah revisi Undang-Undang Minerba yang kini berada di tangan DPR. Di sana, salah satu poin revisinya adalah menghapuskan kewajiban membangun smelter lantaran dianggap menghambat investasi. Ide itu patut ditentang karena sangat berpihak pada pengusaha. Toh dengan ada smelter, nilai jual produk dari sumber daya alam akan meningkat sehingga menambah pemasukan kas negara. 

Kalau sudah begini, akankah Presiden Jokowi berani memutus kontrak perusahaan asal Abang Sam itu pada 2019 dengan dalih kepentingan nasional?


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Indonesia masih menghadapi masalah jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Pertambahan jumlah penduduk tidak seimbang dengan pertumbuhan kesempatan kerja.