Spanduk

Modus semacam ini dulu kerap dilakukan saat rezim orde baru berkuasa. Merekayasa hantu komunisme untuk menakut-nakuti warga demi leluasa merebut tanah rakyat atau menggarong kekayaan alam.

Selasa, 23 Jan 2018 05:09 WIB

Hari Budiawan jadi terdakwa pengibaran spanduk berlogo mirip palu arit di aksi menolak tambang Tumpa

Hari Budiawan jadi terdakwa pengibaran spanduk berlogo mirip palu arit di aksi menolak tambang Tumpang Pitu. (Foto:KBR/Hermawan Arifianto)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Pagi ini rencananya warga desa di kawasan gunung Tumpang Pitu Banyuwangi, Jawa Timur akan membagikan gratis 500 kilogram buah naga. Aksi di depan gedung Pengadilan Negeri setempat itu dimaksudkan sebagai dukungan dan solidaritas terhadap  Hari Budiawan. Aktivis lingkungan penolak tambang emas itu dituntut jaksa kurungan 7 tahun penjara atas dakwaan  menyebarkan ajaran komunisme/marxisme dan leninisme. 

Kasus ini bermula saat aksi menolak tambang emas di Tumpang Pitu pada April tahun lalu. Saat itu warga berencana demo dengan membawa spanduk penolakan dan tuntutan. Tapi demo batal lantaran hujan deras sehingga diganti dengan aksi pemasangan spanduk. Dalam 2 spanduk yang dibuat dengan cat semprot itu tampak seperti ada gambar mirip palu arit. Budi dan 3 warga desa Sumberagung lainnya lantas jadi tersangka menyebarkan ajaran yang dilarang. 

Entah bagaimana logikanya polisi dan penuntut menjerat warga dengan tudingan menyebarkan ajaran terlarang yang  ancaman hukumannya 12 tahun itu. Dalam aksi dan tulisan di spanduk semuanya melulu bicara penolakan terhadap kehadiran  tambang di wilayah itu. Di persidangan, jaksa juga tak dapat menghadirkan bukti spanduk tersebut. Yang bisa dihadirkan jaksa hanya rekaman video aksi yang memperlihatkan spanduk dimaksud.

Itu sebab warga dan aktivis lingkungan mendesak hakim memutus bebas. Pengusutan kasus dinilai mengada-ada dan seperti berupaya melemahkan penolakan warga terhadap tambang. Modus semacam ini dulu kerap dilakukan saat rezim orde baru berkuasa. Merekayasa hantu komunisme untuk menakut-nakuti warga demi leluasa merebut tanah rakyat atau menggarong kekayaan alam. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.