Generasi yang Terancam Hilang

Alarm bahaya itu kembali berbunyi pekan ini. Puluhan anak dan balita di Kabupaten Asmat meninggal karena gizi buruk dan campak.

Rabu, 17 Jan 2018 11:21 WIB

Ilustrasi: Papua

Ilustrasi: Papua (foto: Antara/Indrayadi TH)

Menyimak tragedi gizi buruk dan wabah campak yang menimpa anak-anak Papua belakangan ini seperti membawa kita ke dunia lain di luar Indonesia. Ada 20-an juta orang mengalami krisis pangan dan cobaan penyakit tak berkesudahan di negara-negara dunia ketiga, seperti Somalia, Sudan Selatan. Ratusan ribu orang sekarat hingga meninggal.

Dalam skala lain, itu terjadi di Papua, wilayah yang kaya dengan bahan tambang serta kekayaan alam lainnya. Eksploitasi besar-besaran sumber daya alam di Papua berkelindan dengan perubahan iklim menimbulkan efek berantai yang nyata, termasuk krisis pangan. Sinyal bahaya sudah menyala ketika pada 2009 lalu lebih dari 100 anak di Kabupaten Yahukimo tewas kelaparan dan kena penyakit. Gagal panen menimbulkan kelangkaan pangan hingga berujung pada wabah penyakit seperti malaria dan diare. Belum lagi akses kesehatan sangat selama bertahun-tahun tidak mendapat perhatian serius baik dari pemerintah pusat maupun daerah.

Alarm bahaya itu kembali berbunyi pekan ini. Puluhan anak dan balita di Kabupaten Asmat meninggal karena gizi buruk dan campak.

Papua sudah hidup selama ratusan generasi, dengan segala kearifan lokal dari para leluhur. Pembangunan yang salah dan dipaksakan telah menggerus nilai-nilai ketahanan pangan lokal dan merusak budaya warga Papua mengenai pangan. Sagu dan ubi berubah jadi beras, ladang umbi disulap jadi sawah, kebun sawit hingga karet.

Ini benar-benar kesalahan pemerintah pusat dan daerah yang selama bertahun-tahun tidak menempatkan rakyat Papua secara manusiawi. Dana otonomi khusus lebih dari Rp50 triliun yang dikucurkan sejak 2002 seperti tidak ada bekasnya. Belum lagi pendekatan pembangunan secara militeristik dan kecurigaan selama bertahun-tahun, membuat generasi muda Papua dalam ancaman. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.