Istana Bogor.  (Foto: KBR/Rafik)

Istana Bogor. (Foto: KBR/Rafik)

Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) kemarin merayakan hari jadinya yang ke-70. Alih-alih catatan prestasi di hari jadi, malah coreng hitam dilakukan anggotanya. Dalam sepekan ini dua peristiwa mempermalukan korsp pengawal Pejabat-pejabat tertinggi di negeri ini dan juga tamu negara. 

Kasus pertama pada Senin ini, prajurit satu anggota Paspamres ditangkap di Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara lantaran kedapatan membawa narkoba. Kasus kedua pada kemarin, dua sersan anggota Paspampres baku pukul dengan aparat dari Kecamatan Tanah Abang. Sebagai personil Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang mengawal orang-orang paling penting di negeri ini, kelakuan mereka sungguh tidak patut.

Paspampres dikenal memiliki slogan “Setia Waspada”. Dalam situs pasukan ini, slogan tersebut diartikan setia pada tugasnya dan memiliki kewaspadaan yang tinggi terhadap segala ancaman. Setia pada tugas diartikan memiliki kesetiaan pada Pancasila dan sumpah prajurit serta kepada bangsa dan negara. Karena itulah sebagai prajurit terpilih, setiap anggota Paspampres mesti rela mengorbankan jiwa dan raganya demi tugas yang diemban. 

Ketiga prajurit yang mencoreng institusi itu rasanya perlu diingatkan dengan arti slogan tersebut. Kalau mereka tak mampu menjaga perilaku, bagaimana mereka akan mengawal orang-orang yang kepadanya keselamatan disandarkan? 

Karena nila setitik, rusak nama baik organisasi. Tak kurang dari Wakil Presiden Yusuf Kalla dan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Luhut Binsar Pandjaitan, meminta pelaku diberi hukuman. Tak hanya diproses hukuman penjara tapi juga dipecat dari kesatuan. Orang-orang semacam ini jelas tak amanah menjaga orang-orang terpenting di negeri ini dan juga tamu dari manca negara. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!