DPR. (Antara)

DPR. (Antara)

DPR sepertinya punya selera humor dan kreativitas yang sangat tinggi.

Dalam Rencana Umum Pengadaan (RUP) 2016, DPR mengajukan anggaran untuk pewangi ruangan selama setahun sebesar 2,6 miliar. Artinya, setiap bulan, ada anggaran yang dialokasikan untuk wangi-wangian sebesar 200 juta rupiah lebih. Uang ini rencananya akan dipakai untuk membeli alat pengharum ruangan, pengharum urinoir serta tisu. Ada juga anggaran untuk membeli cairan pembersih dudukan kloset dan tempat sampah khusus pembalut wanita. Selesai? Belum. Masih ada anggaran juga untuk pewangi untuk acara pidato negara. Dan dalam setahun, ada 4 kali pidato macam begini.

Temuan dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) ini membuat lampu sorot langsung mengarah pada DPR. Lembaga ini yang setahun terakhir hanya menghasilkan 3 undang-undang dari 39 RUU yang semestinya diselesaikan. Lembaga ini juga lho yang dianggap paling korup dalam angket persepsi publik yang dibuat oleh Change.org. “Pasien” KPK pun banyak yang berasal dari lembaga terhormat ini.

Yang luar biasa adalah bagaimana DPR lagi dan lagi membuat kejutan seperti ini. Seperti lupa bahwa ada puluhan juta pasang mata yang mengawasi kerja mereka. Seperti lupa bahwa ada rekam jejak gelap yang mereka torehkan selama ini terkait kinerja dan anggaran. Seperti lupa bahwa mereka menyandang peran yang terhormat di Republik ini.

Tapi untuk itulah ada LSM yang mengawasi kerja DPR dan fokus pada isu korupsi, karena itu juga ada kita, rakyat Indonesia. Jika ada pepatah yang menyebut ‘yang waras, mengalah’, maka pakem ini harus kita buang jauh-jauh. Justru kita mesti bersuara sekeras mungkin. Uang ratusan juta yang akan dipakai untuk membeli pengharum ruangan itu berasal dari keringat kita, dari pajak kita. Maka sudah sepatutnya ada transparansi anggaran yang jelas untuk apa pun yang akan dibeli oleh DPR.

Inilah saat-saat di mana ‘yang waras, bersuara’. Dan bersuaralah yang keras.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!