Presiden RI Joko Widodo. (Danny Setiawan/PortalKBR)

Bola panas yang dilempar Presiden Joko Widodo, kini berbalik mengarah ke dirinya sendiri. Koalisi pro Jokowi dan koalisi pro Prabowo di parlemen, yang selama ini diasumsikan saling berlawanan, kini kompak bersatu. Kecuali Partai Demokrat, seluruh fraksi di DPR menyetujui calon Kapolri Budi Gunawan yang disodorkan Jokowi.

Tapi publik marah. Budi Gunawan bukanlah seorang polisi yang memiliki rekam jejak baik. Bekas Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein menyebut Budi pernah mendapat rapor merah dari PPATK dan KPK. Sehari sebelum rapat Komisi III DPR, KPK bahkan menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka kasus korupsi.

Toh, Jokowi bergeming. Ia tak segera membatalkan surat yang sudah terlanjur ia kirim ke DPR. Dan DPR pun tak menggubris signal keras yang dikirim KPK. Seolah status tersangka yang dikenakan pada seorang calon pemimpin tertinggi korps kepolisian, tak bakal berdampak buruk pada penegakan hokum.

Mengikuti proses pencalonan Kapolri ini, seluruh bangunan logika kita seakan dibuat beku. Akal sehat kita dilecehkan. Aspirasi warga yang demikian tinggi pada pemerintahan baru, dibanting sedemikian keras. Jokowi dan DPR betul-betul telah meninggalkan konstituen terpenting yang membuat mereka bisa duduk di kursi terhormat: rakyat Indonesia.

Harus jujur diakui, sumber masalah justru terletak pada Presiden sendiri. Sejak awal ia tahu, Budi Gunawan adalah orang yang bermasalah di mata KPK dan PPATK. Itu sebab, Presiden tak berkonsultasi lebih dahulu dengan dua lembaga itu saat berkirim surat ke DPR. Jokowi mungkin berharap, biarlah DPR yang menolak Budi Gunawan, bukan dirinya. Sekadar tambahan info, Budi Gunawan adalah bekas ajudan Megawati Soekarnoputri semasa menjabat sebagai Presiden RI. (Baca: KPK Cekal Budi Gunawan dan 3 Orang Lainnya)

Sungguh sayang, pemerintahan Jokowi-JK  yang belum genap berusia 3 bulan, sudah banyak mengecewakan pendukungnya yang pernah membela mereka habis-habisan. Mulai dari susunan kabinet yang tak sesuai harapan, penunjukan Jaksa Agung yang tak istimewa, dan klimaksnya adalah pengajuan nama Budi Gunawan yang kini jadi tersangka kasus korupsi.

Sekarang Jokowi menghadapi simalakama: membatalkan pencalonan Budi akan membuat DPR merasa dilecehkan, melantik Budi sebagai Kapolri akan membuat KPK dan publik berang.

Pelajaran dari seluruh rangkaian kekecewaan publik ini cuma satu, Jokowi harus berani menjadi dirinya sendiri. Berani bilang tidak kalau tak sesuai dengan nuraninya.  Dari situ, kepercayaan rakyat akan ia dapatkan kembali.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!