toleransi, rosnida, banda aceh, kristenisasi

Niat Rosnida Sari untuk menyebarkan toleransi ke mahasiswanya, berujung pada cacian dan kecaman di dunia maya. Rosdina adalah dosen mata kuliah gender di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Dia mengajak 10 mahasiswanya berkunjung ke sebuah gereja di Banda Aceh untuk untuk  belajar dan mengenal hubungan gender pria-wanita dari agama lain.

Namun upayanya ini malah memunculkan tudingan bahwa dia tengah melakukan Kristenisasi. Rosnida dianggap murtad. Akun Facebooknya kebanjiran komentar negatif. Dia dibully di media sosial, bahkan ada yang mengancam akan membunuhnya. Hari itu juga, ia menutup akun Facebook-nya.

Tak tahan dengan semua ini, Rosnida membawa ibu dan adiknya untuk pindah ke tempat yang aman. Dia panik dan stres, tak menyangka upayanya menanamkan pemahaman soal keberagaman malah membuat hidupnya tak aman. Tak hanya itu, Rosnida juga mendapat peringatan keras dari Dekan Fakultas Dakwah. Pihak universitas memutuskan akan meninjau ulang mata kuliah gender yang diajarkan Rosnida.

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Abdul Rani Usman menuding kegiatan Rosnida tersebut mengganggu budaya Islami yang melekat pada masyarakat di Aceh. (Baca: Dosen Bawa Mahasiswa Belajar di Gereja Hal Biasa)

Namun menurut mahasiswanya, Rosdina tak pernah memberi pelajaran yang menyimpang dari akidah agama. Sang dosen juga tak memaksa para mahasiwa untuk berkunjung ke gereja. Tak ada pula ancaman pengurangan nilai jika menolak.

Rosnida pasti paham benar bahwa salah satu cara paling efektif menanamkan nilai toleransi  adalah dengan mengajak mahasiwanya ke tempat-tempat ibadah agama lain. Hal ini dialaminya saat menuntut ilmu di Australia. Belajar untuk mengenali kesamaan memang dapat menyatukan. Tapi belajar untuk mengenali dan menerima perbedaan adalah satu hal yang perlu dipelajari sejak dini.

Sikap toleran erat kaitannya dengan kehidupan beragama. Orangtua mesti pegang peranan dalam memperkenalkan keberagaman agama – misalnya lewat macam-macam tempat ibadah. Jika si kecil menanyakan perbedaan agama dia dan temannya, inilah saatnya bagi orangtua untuk membimbing dengan penjelasan sederhana.

Dari pemahaman akan kemajemukan, niscaya muncul sikap toleran. Dan ini menjadi kunci bagi seseorang untuk bisa menjalin hubungan dengan orang lain. Toleransi adalah pintu masuk untuk menerima kenyataan kalau berbeda itu tidak salah. Justru, perbedaan tersebut harus dihargai dan dimengerti sebagai bentuk keberagaman.

Dengan sikap toleran, seseorang akan memperlakukan orang lain dengan baik dan setara – tanpa permusuhan.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!