keamanan, kedubes as, Surabaya, Tri Rismaharini, intelijen

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia, Sabtu pekan lalu mengeluarkan peringatan keamanan bagi warganya yang sedang berada di Surabaya. Kedubes AS mencium adanya potensi ancaman terhadap kepentingan AS, terutama yang berkaitan dengan hotel dan bank. Dan karena itu mereka meminta warganya untuk meningkatkan kewaspadaan ketika berada di tempat-tempat tersebut.

Meski tidak menerima tembusan surat edaran tersebut, kepolisian Jawa Timur langsung menempatkan para personelnya di lokasi-lokasi yang dianggap potensial terjadi gangguan keamanan. Sedangkan Walikota Surabaya Tri Rismaharini justru menilai peringatan keamanan itu tidak tepat, karena menurut ia, Surabaya berada dalam situasi yang aman.

Kedubes AS memang tidak merinci potensi gangguan keamanan jenis apa yang bisa mengancam warga AS di Surabaya. Tapi peringatan semacam ini jelas dikeluarkan tanpa alasan. Pihak AS pasti memiliki informasi intelijen tentang potensi gangguan keamanan yang bentuknya bisa bermacam-macam. Justru peringatan seperti ini harus dipakai para pejabat keamanan kita untuk semakin meningkatkan kepekaan dan melakukan deteksi dini terhadap berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.

Kita hargai Walikota Surabaya yang menilai peringatan keamanan Kedubes AS tidak tepat. Sebagai seorang pejabat publik, Tri Rismaharini memang harus menenangkan warganya. Tapi sekali lagi, kita tak boleh lengah. Potensi ancaman keamanan bisa datang kapan saja, di mana saja.

Kita percaya aparat keamanan kita, termasuk aparat intelijen, juga memiliki informasi yang kurang lebih serupa. Kelompok-kelompok militan semacam ISIS yang meski sudah dilarang di Indonesia, memiliki simpatisan dan pengikutnya di sini. Mereka, entah karena bodoh atau taklid buta, mendukung gerakan yang kasat mata telah menyelewengkan ideologi Islam sampai batas yang tak masuk akal. Kelompok-kelompok semacam ini tak segan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya.

Potensi ancaman itu memang tak harus datang dari pengikut ISIS. Identitas atau jubah mereka bisa bernama apa saja. Bisa pula datang dari kelompok-kelompok sempalan yang tak berhubungan dengan ISIS. Nama kelompok bisa penting, bisa pula tidak. Bagi warga sipil, mereka semua sama: kelompok teroris dan criminal yang membahayakan kehidupan bersama. (Baca: Banser Banyuwangi Siap Bantu Hadapi ISIS)

Sasaran mereka mungkin kepentingan AS. Tapi kita tahu, selain warga AS bukan tak mungkin korbannya adalah warga Indonesia sendiri. Dua-duanya adalah manusia, yang wajib dilindungi hak hidupnya.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!