Ilsutrasi.

Ahmed Merabet bekerja sebagai polisi di Prancis. Pria berumur 42 tahun itu sejatinya seorang muslim. Namun Rabu lalu, ia kehilangan nyawa ditembak dua orang warga muslim Prancis lain beraliran garis keras.

Ahmed tengah berpatroli di sebuah gedung di Paris menjelang waktu makan siang. Tiba-tiba ia ditembak beberapa orang bertopeng dan bersenjata. Dalam kondisi luka, Ahmed sempat mengangkat tangan tanda tidak melawan. Namun ia kembali dihujani peluru hingga tewas.

Para pria bertopeng itu baru saja kabur dari gedung setelah menghabisi nyawa sejumlah orang di kantor majalah Charlie Hebdo dengan senjata Khalasnikov-nya. Mereka menyerbu kantor majalah satir itu dengan membabibuta, dan menjadi serbuan terburuk di Pranci dalam 50 tahun terakhir. Korban dalam tragedi ini mencapai setidaknya 11 orang.

Pelaku mengamuk setelah majalah satir itu berencana mempublikasikan kartun Nabi Muhammad, nabi teragung umat Islam. Polisi Prancis mengkonfirmasi, pelaku terlibat jaringan teroris di Yaman.

Tragedi teror di Paris Prancis itu menjadi perhatian dunia. Apalagi, ini menyangkut perilaku kekerasan terhadap kebebasan berekspresi yang dijamin negara itu. Membalas ekspresi dengan kekerasan merupakan tindakan bodoh dan konyol. Apalagi sampai menghilangkan nyawa.

Kita tidak setuju dengan publikasi kartun Nabi Muhammad yang dilakukan majalah satir. Karena itu merupakan masalah sensitif. Di samping itu, media massa juga harusnya memainkan peran sebagai penyejuk dan bukan provokator. Tapi kita lebih tidak setuju jika apa yang dilakukan majalah itu dibalas dengan senjata. Apapun alasannya, teror tetap teror. Membunuh orang tetaplah teror. (Baca: Ribuan Warga Prancis Kecam Penembakan di Charlie Hebdo)

Kita punya pengalaman, ketika pada 1990-an, tabloid Monitor memuat jajak pendapat tentang tokoh yang paling dikagumi pembacanya. Jajak pendapat terbuka itu ternyata menempatkan Nabi Muhammad di urutan 11, di bawah Soeharto, BJ Habibie, atau Iwan Fals. Tabloid itu pun didemo besar-besaran. Massa mengamuk di kantor Monitor, menghancurkan monitor komputer, meja, kursi hingga arsip-arsip. Kasus itu berujung pada pemenjaraan pemimpin redaksinya Arswendo Atmowiloto dibui, dan tabloidnya ditutup.

Kita tidak ingin kasus kekerasan terhadap Monitor terulang lagi. Begitu juga jangan sampai teror di Prancis merembet ke sini.

Seorang filsuf terkenal asal Prancis Voltaire sudah lama meninggal di abad 18. Tapi kutipannya masih tepat untuk saat ini. "Aku tidak setuju dengan apa yang engkau katakan. Tapi aku akan membela sampai mati akan hakmu untuk mengatakan pendapat itu."

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!