Jangan Sampai Ada Kriminalisasi

Jokowi sebaiknya tidak lupa kalau ia menjadi Presiden berkat dukungan rakyat

Senin, 26 Jan 2015 09:41 WIB

jokowi, kpk, polri, kriminalisasi, konstitusi

Dalam konferensi pers semalam, Presiden Joko Widodo berpesan: jangan sampai ada kriminalisasi terhadap Polri dan KPK.


Ini pesan penting yang sudah dinanti-nanti setelah drama penangkapan terhadap Wakil Ketua KPK Bambang Wijoyanto. Pesan ini muncul setelah Presiden Jokowi bertemu sejumlah tokoh yang kelihatannya bakal jadi bagian dari tim independen untuk menengahi kisruh KPK dan Polri. Tokoh-tokoh itu adalah Jimly Asshidiqie, Hikmahanto Juwana, Oegroseno, serta Widodo Umar.


Kehadiran para tokoh ini juga memberi aura positif. Paling tidak ini memperlihatkan kalau Jokowi bersedia mendengarkan pendapat orang lain – di luar lingkaran politik dan lingkaran kabinetnya. Ini jadi penting setelah Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM menyebut mereka yang menggelar aksi mendukung KPK sebagai ‘rakyat yang tidak jelas’. Meski tim belum dibentuk secara formal, kehadiran para tokoh itu seperti memberi kelegaan baru akan peluang resolusi dari konflik Polri dan KPK ini. Bahwa akan ada suara yang relatif jernih yang bisa memberikan masukan kepada Presiden Jokowi demi meredakan ketegangan di tengah masyarakat. (Baca: Aktivis: Kita Butuh Seorang Presiden Bukan Petugas Partai)


Ada pesan lain yang disampaikan oleh Presiden Jokowi yaitu ‘jangan ada yang sok merasa di atas hukum’. Nah ini yang membuat kita bertanya-tanya. Siapa yang dimaksud Jokowi telah bersikap sok-sokan? Polisi? KPK? Sayangnya tak ada penjelasan lebih jauh dari Presiden soal ini. Tak sampai lima menit di atas podium, Jokowi selesai bicara tanpa ada ruang tanya jawab.


Rasanya harapan masih ada. Presiden sudah berjanji akan mengawasi bagaimana kasus ini berjalan. Ini artinya memastikan tidak ada kriminalisasi, juga tidak ada yang sok-sokan. Ini saatnya Presiden membuktikan kalau dia adalah pemimpin tertinggi di negara ini. Bahwa dia Presiden yang menepati janji kampanyenya – untuk tunduk hanya kepada konstitusi.


Ini adalah ujian besar bagi Jokowi dan tim yang kelihatannya akan dibentuk Jokowi ini menanggung harapan besar dari banyak orang. Tim diharapkan bisa menghasilkan rekomendasi yang obyektif, yang bisa menyelamatkan independensi KPK dan membersihkan Kepolisian dari virus korup.


Jokowi sebaiknya tidak lupa kalau ia menjadi Presiden berkat dukungan rakyat – yang dianggap ‘tak jelas’ oleh menterinya itu. Ini bukan saatnya lagi mengungkit lagu lama Jokowi versus Prabowo. Jokowi adalah presiden untuk seluruh warga Indonesia. Dan yang lebih penting saat ini adalah menyelamatkan KPK, juga Polri.


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau