benci, media sosial, twitter, facebook, intoleran

Twitter dan Facebook dianggap membiarkan Islamofobia beredar di media sosial mereka. Anggapan ini muncul karena Twitter dan Facebook menolak menurunkan sejumlah unggahan yang bernada menyerang Islam di laman mereka. Penelitian yang dilakukan di Inggris ini menunjukkan kalau cuitan atau komentar bernada menyerang Islam muncul setelah ada tawanan Inggris yang tewas dibunuh ISIS.

Facebook dan Twitter punya dalihnya sendiri-sendiri untuk menolak menurunkan unggahan bernada menyudutkan Islam itu. Mereka bersikukuh sekadar mempertahankan keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan menjaga lingkungan yang aman. Tapi keduanya memastikan bakal segera menurunkan unggahan yang secara khusus menyerang seseorang karena ras. (Baca: Polisi: Berhati-hatilah Menggunakan Media Sosial)

Organisasi lintas iman di Inggris, Faith Matters mengatakan, Facebook dan Twitter seperti tengah ikut mengkonstruksi nilai apa yang dianggap benar dan salah bagi masyarakat. Ketika pemikiran yang sempit dan intoleran dibiarkan beredar, maka yang terancam adalah masa depan kemajemukan – ketika kita terkotak-kotak berdasarkan ras, suku serta agama.

Di Indonesia, Facebook dan Twitter masih sangat populer. Tanpa filter, setiap orang bisa menuangkan pikirannya – yang kadang intoleran. Beberapa waktu lalu sempat beredar foto akun Facebook dengan wajah profil seorang perempuan remaja berkerudung yang berkomentar negatif seputar musibah Air Asia QZ8501. Ini sempat membuat heboh media sosial lantaran semua orang bisa membagikan unggahan itu lewat ujung jarinya. Pada akhirnya unggahan itu diduga palsu, tapi sangat mungkin tidak semua orang paham soal ini.

Agama adalah hal yang sangat sensitif. Indonesia sudah pernah terjebak konflik atas nama agama. Penelitian terakhir Wahid Institute pun menunjukkan kalau belum ada peningkatan peran agama dalam memastikan hak-hak warga negara terpenuhi soal agama. Jika kebencian dipupuk subur lewat media sosial yang sangat populer, tanpa peran negara yang memadai, bakal jadi apa masyarakat Indonesia?

Mumpung masih hari-hari pertama di 2015, ini saatnya memulai lembaran baru. Membuat wajah Indonesia yang lebih toleran. Kata-kata penuh kebencian mesti dibalas dengan harmoni indahnya toleransi. Dan Indonesia punya segudang potensi soal itu – di mana perbedaan dilihat biasa-biasa saja karena kita semua beda, sekaligus setara.

Kita hanya perlu melihat lebih jernih dengan pikiran yang lebih terbuka.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!