black box, air asia, knkt, QZ8501, basarnas

Kabar baik datang dari Laut Jawa. Tim SAR gabungan telah menemukan jejak dua barang yang selama ini dicari-cari, yaitu perangkat rekaman data penerbangan dan perekam percakapan kokpit. Itu adalah barang-barang penting dari tragedi jatuhnya pesawat AirAsia nomor penerbangan QZ8501. Dua peranti itu biasa dikenali sebagai kotak hitam yang sebetulnya berwarna orannye. Dua alat itu merupakan kunci pembuka terhadap penyelidikan insiden penerbangan AirAsia rute Surabaya-Singapura.

Kita memberi selamat kepada Tim SAR gabungan yang dikoordinasi Badan SAR Nasional, atas temuan itu. Temuan dua alat penting di hari pencarian ke-16 tidak bisa dibilang cepat atau lambat. Jika membandingkan dengan tragedi pesawat AdamAir yang jatuh di Selat Makassar pada awal 2007, temuan Basarnas kali ini memang jauh lebih cepat. Kotak hitam AdamAir ditemukan lebih dari delapan bulan.

Temuan kotak hitam pesawat AirAsia kali ini tak lantas membuat lega, dan pekerjaan selesai. Justru dari sini titik awal penyelidikan baru dimulai. Komite Nasional Keselamatan Transportasi KNKT akan segera menggandeng pihak lain untuk menyelidiki penyebab kecelakaan AirAsia itu. (Baca: Flight Data Recorder Kotak Hitam Air Asia Ditemukan)

Berkaca pada tragedi AdamAir yang dikenal sebagai Tragedi Penerbangan 571, pengumuman penyebab kecelakaan baru diumumkan delapan bulan kemudian atau lebih dari setahun setelah peristiwa kecelaan terjadi. Kita berharap investigasi untuk kali ini bisa lebih cepat. Apalagi KNKT telah memiliki alat pembaca rekaman sendiri. Sebelumnya, rekaman harus dibawa ke luar negeri.

Dari hasil investigasi itu kita berharap ada evaluasi yang bisa dilakukan agar kasus serupa tidak terulang. Terutama menyangkut prosedur penerbangan secara menyeluruh, termasuk ketika menghadapi cuaca buruk.

Kita berharap proses pencarian jenazah korban atau barang-barang penting korban tetap dilakukan demi alasan kemanusiaan. Meski saat ini bantuan negara lain sudah dikurangi.

Pemerintah melalui pihak-pihak yang ditunjuk juga mesti mempermudah proses klaim asuransi dari keluarga, baik kepada maskapai maupun perusahaan asuransi. Jika Panglima TNI secara spontan memberi bonus Rp100 juta kepada penyelam penemu kotak hitam, jangan sampai keluarga korban menangis karena hak-hak mereka terabaikan.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!