Menyalahkan Perempuan

Apa betul kekerasan seksual, khususnya terhadap perempuan dan anak, terjadi semata-mata karena pakaian yang seksi? Ini cara pikir yang menyalahkan pihak perempuan.

Jumat, 22 Des 2017 05:43 WIB

Ilustrasi: Raperda Ketahanan Keluarga Bengkulu

Ilustrasi: Raperda Ketahanan Keluarga Bengkulu

Perlukah mengatur cara berpakaian seseorang? Di Bengkulu, DPRD Provinsi merasa perlu mengeluarkan Rancangan Peraturan Daerah yang mengatur soal itu. Namanya Raperda Ketahanan Keluarga dan Perlindungan Anak. Ketua Komisi IV DPRD Bengkulu Murahamin mengatakan, Raperda Ini muncul karena tingginya angka kasus kekerasan seksual terhadap pelajar. Raperda akan melarang pelajar untuk berpakaian seksi, berlaku dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi. 

Apa betul kekerasan seksual, khususnya terhadap perempuan dan anak, terjadi semata-mata karena pakaian yang seksi? Ini cara pikir yang menyalahkan pihak perempuan. Yayasan Pusat Pendidikan untuk Perempuan dan Anak di Bengkulu langsung angkat suara. DPRD dianggap tak punya cukup fakta pendukung Untuk mendorong adanya Raperda ini. Raperda ini pun dianggap bias keadilan terhadap perempuan. Padahal kalau bicara soal 'ketahanan keluarga' ada peran yang semestinya setara antara perempuan dan laki-laki. 

Bengkulu bukan satu-satunya yang berpikiran seperti ini. Sebelumnya di Aceh Barat sempat muncul larangan soal memakai celana jeans untuk perempuan. Tubuh perempuan dianggap sebagai sumber godaan, ketika yang mesti dicek lagi adalah apa yang ada di pikiran laki-laki. Fakta juga membuktikan, kekerasan seksual bisa saja terjadi pada perempuan yang sudah menutup rapat tubuhnya.

Artinya, cara berpikir macam begini sudah usang. Lebih baik mendorong pendidikan dan saling menghargai sesama manusia sehingga kekerasan seksual bisa dicegah tanpa perlu mengatur cara kita berpakaian.  

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Seberapa besar ketertarikan generasi milenial terhadap koperasi di Indonesia saat ini?