Drama

Dalam dakwaannya jaksa menyebut bekas Ketua DPR itu menerima uang sejumlah USD 7,3 juta. Selain itu, juga menerima jam tangan mewah Richard Mille, yang bernilai USD 135 ribu.

Kamis, 14 Des 2017 10:50 WIB

Setya Novanto tertatih memasuki ruang sidang Tipikor Jakarta

Setya Novanto memasuki ruangan sidang perdana di gedung Pengadilan Tipikor Jakarta.Foto: Antara/Wahyu Putro A)

Sejumlah media menyebut persidangan dugaan korupsi KTP elektronik senilai triliunan rupiah itu sebagai drama. Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi terpaksa berkali-kali menjeda sidang lantaran terdakwa, bekas Ketua DPR menyatakan dalam kondisi sakit.

Sedari Rabu pagi sidang dibuka sudah tampak gelagat akan ada “drama”. Berkali-kali saat hakim menanyakan identitasnya, Setnov hanya diam. Seakan tak mendengar pertanyaan menggunakan pengeras suara itu, dia menjawab sudah 5 hari dalam kondisi sakit diare. Alih-alih menjawab pertanyaan identitas, Setnov malah mengadu kalau dokter tak mau memberinya obat.

Hakim lantas menjeda sidang hingga berjam-jam untuk memberi waktu dokter memeriksa terdakwa. Hasilnya, Setnov dinyatakan sehat. Rabu petang jaksa akhirnya bisa membacakan dakwaan terhadap Setya Novanto. Dalam dakwaannya jaksa menyebut bekas Ketua DPR itu menerima uang sejumlah  USD 7,3 juta. Selain itu, juga menerima jam tangan mewah Richard Mille, yang bernilai USD 135 ribu. Pasal yang digunakan berisi ancaman penjara seumur hidup.

Dugaan “drama” atau sebagian menyebut siasat sakit itu bukan kali pertama. Beberapa kali Setnov beralasan sakit saat hendak diperiksa. Ajaibnya ketika hakim praperadilan memenangkan kasusnya Setnov mendadak sehat dan bisa beraktifitas di parlemen dan partai. Pun ketika menjadi tersangka kali kedua, manuver serupa juga digunakan.   

Apa yang dipertontonkan Setnov  tentu bukan sesuatu yang baik. Sebagai bekas ketua lembaga tinggi negara, sepatutnya ia memberi teladan baik. Meja hijau adalah tempat mencari keadilan, bukan panggung sandiwara. Bila merasa mendapat perlakukan tak adil, yang dilakukan semestinya adu argumen hukum dan bukti. Hingga  pengadil kelak bisa memberi putusan yang tepat. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.