Anak

Meminjam Gibran; Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan.

Senin, 20 Nov 2017 10:06 WIB

Ilustrasi: anak riang gembira

Anak-anak riang gembira bermain lompatan salto di dermaga wisata mangrove di Kalukku, Mamuju, Sulawesi Barat. (Foto: Antara/Akbar Tado)

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan hari ini 20 November sebagai hari anak universal. Awalnya penetapan yang diumumkan Majelis Umum PBB sejak 63 tahun lalu  itu dimaksudkan untuk mendorong anak-anak dari beragam etnis, agama dan latar belakang saling mengenal dan menghargai perbedaan masing-masing. Belakangan bergeser menjadi upaya pemenuhan dan penghormatan terhadap hak-hak anak.

Meski ada hari anak universal, setiap negara memiliki hari anak masing-masing. Indonesia misalnya menetapkan hari anak pada tanggal 23 Juli. Tahun ini Indonesia menggunakan tema "Perlindungan Anak Dimulai dari Keluarga". Sedangkan   pesan utama  yang digunakan "Saya Anak Indonesia, Saya Gembira".

Makin banyak hari didedikasikan untuk penghormatan dan upaya pemenuhan hak anak tentu makin baik. Ini untuk memastikan, masa depan bangsa --juga dunia-- merekalah pemiliknya. Orang dewasa bertugas membuka jalan agar seluruh potensi anak bisa diberdayakan untuk kemaslahatan dan kegembiraan mereka.

Tak boleh lagi menjadikan anak sebagai pekerja murah atau obyek dari kepentingan orang dewasa. Lihat misalnya pekerja anak yang menjadi korban ledakan pabrik petasan di Kabuten Tangerang, Banten. Atau anak yang membenci kaum lain yang berbeda agama, etnis atau asal. Tugas anak adalah menerima pendidikan yang baik dan gembira.

Meminjam Gibran; Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan. Engkau bisa diartikan sebagai  orang tua atau negara yang memastikan anak mendapatkan haknya dengan sepenuh kegembiraan. 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".