Kesadaran Menerima Perbedaan

Lantas apa yang bisa dilakukan kids zaman now? Kesadaran akan perbedaan adalah modal dasar untuk menerima keberagaman di Indonesia.

Senin, 30 Okt 2017 05:07 WIB

Upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Puncak Fulan Fehan, NTT

Upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Puncak Fulan Fehan, Kabupaten Belu, NTT. (Foto: Antara/Kornelis Kaha)

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Kata-kata Soekarno berpuluh tahun silam semakin terasa kebenarannya sekarang. Betapa kita sebagai bangsa yang besar, yang terdiri dari beragam suku bangsa dan agama, justru sering terkoyak dan dikoyak-koyak karena kebesaran itu sendiri. Sumpah Pemuda adalah momen sejarah penting untuk merefleksikan keberagaman kita, juga kesadaran untuk memilih menjadi satu bangsa. Karena itu, ikrar Sumpah Pemuda yang digagas 89 tahun lalu harus terus berkobar. Supaya sekat antarsuku bangsa yang sudah diruntuhkan oleh Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon dan kelompok pemuda lainnya bisa terus menyatukan kita di bawah bendera Indonesia.

Tapi Soekarno benar, tantangan zaman now sangat berbeda dengan zaman then. Situasi sekarang makin rumit. Terbukti, kita justru makin sering bertengkar dengan kita sendiri – untuk berbagai topik, di berbagai kesempatan. Musuh kita bukan lagi penjajah dari negeri seberang yang hendak mengambil kekayaan bumi Nusantara. Musuh kita sekarang adalah hoax – kabar bohong yang dengan mudah tersebar luas, yang seringkali mempertegas batas antara ‘kami’ dan ‘kalian’. Kelompok Saracen membuktikan kalau hoax telah menjadi bisnis. Dan betapa itu menyesakkan – mengambil untung dari perpecahan bangsa sendiri.

Lantas apa yang bisa dilakukan kids zaman now? Kesadaran akan perbedaan adalah modal dasar untuk menerima keberagaman di Indonesia. Indonesia di masa sekarang dan nanti membutuhkan kita yang melebur, yang saling menghargai perbedaan satu sama lain dan saling bekerja sama - apa pun latar belakangnya. Gelora Sumpah Pemuda tak boleh berhenti di tanggal 28 Oktober, tapi harus terus menyala setiap saat.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Tanggal 23 Juli nanti kita akan merayakan Hari Anak Nasional. Peringatan ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa masih banyak persoalan yang dihadapi anak Indonesia.