Merazia Alquran

Sweeping atau penyisiran terjadi setelah heboh tulisan nettizen beredar di media sosial. Tulisan itu menyebut ada Alquran palsu karena salah menerjemahkan kata awliya.

Selasa, 25 Okt 2016 10:05 WIB

Ilustrasi tafsir

Ilustrasi tafsir

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


SEBUAH media daring pada Senin kemarin memberitakan aparat kepolisan merazia toko buku di pusat-pusat perbelanjaan di Kota Tangerang Banten. Razia dilakukan khusus untuk mencari kitab suci Alquran yang konon mengandung terjemahan Surat Almaidah ayat 51 yang dianggap menyimpang.

Kepolisian Tangerang menyebut ada 16 penerbit yang membelokkan atau menyimpangkan terjemahan mengenai kata awliya, dari semula artinya 'pemimpin' diubah menjadi 'teman setia'. Petinggi Polsek Tangerang mengaku sweeping berdasarkan perintah itu dari Polda Metro Jaya.

Sweeping atau penyisiran terjadi setelah heboh tulisan nettizen beredar di media sosial. Tulisan itu menyebut ada Alquran palsu karena salah menerjemahkan kata awliya. Di situ disebut ada pemalsuan terjemahan Alquran untuk mendukung calon kepala daerah nonmuslim tertentu. Bahkan Kementerian Agama dituding ikut terlibat dalam pemalsuan ayat itu. Seorang nettizen malah menyerukan merazia Alquran di toko-toko buku yang dianggap palsu itu.

Siapapun itu yang melakukan, sweeping atau razia Alquran menandakan ketidakpercayaan terhadap lembaga resmi seperti Kementerian Agama.

Klarifikasi yang disampaikan pimpinan lembaga pengesahan mushaf Alquran di Kementerian Agama menegaskan tidak ada instruksi mengubah terjemahan ayat Alquran itu. Terjemahan kata awliya sebagai teman setia sudah ada dalam Alquran sejak 2002 dan itu pun atas musyawarah dan kesepakatan para ulama atau ahli agama. 

Penjelasan Kementerian Agama itu bisa dibaca di situs resmi Kementerian Agama, juga di situs KBR.id. Semua Alquran yang beredar di Indonesia, jika sudah mendapat tanda tashih atau 'lulus' pemeriksaan dari Kementerian Agama, berarti bukan palsu. 

Kita berharap aparat kepolisian dan masyarakat umum tidak ikut memperkeruh suasana dengan membuat kehebohan soal terjemahan Alquran.

Kepolisian semestinya tidak mengikuti irama gendang yang ditabuh kelompok-kelompok yang hendak memecah belah masyarakat. Kita juga berharap masyarakat lebih bijak menyikapi setiap informasi yang beredar terutama dari media sosial yang belum tentu benar.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob

  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri perlakuan diskriminatif / ujaran kebencian di ruang pendidikan, tempat kerja, lembaga pemerintahan, dan ruang publik lainnya tapi tidak tahu lapor kemana?