Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengikuti acara. (Antara)

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan (tengah) mengikuti acara. (Antara)


Pemerintah Provinsi Jawa Barat belakangan mendapat sorotan terkait program beasiswa yang diberikan Dinas Pendidikan Jawa Barat untuk mahasiswa yang punya kemampuan menghafal Alquran. Beasiswa diantaranya untuk mahasiswa Universitas Padjadjaran Bandung. Dalam surat edaran akhir September lalu, pengelola kampus itu menyebut beasiswa diutamakan untuk mahasiswa berprestasi di bidang menghafal Alquran minimal lima juz dan atau prestasi di bidang lain. Tahun lalu, pemerintah Jawa Barat juga menawarkan beasiswa serupa untuk mahasiswa Universitas Indonesia di Depok. Pemerintah Jawa Barat beralasan kebijakan ini diberikan karena mayoritas warga di provinsi itu muslim.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan beasiswa bagi para penghafal Alquran dimaksudkan untuk meningkatkan prestasi siswa di Jawa Barat. Ia meyakini seorang yang hafal Alquran pasti cerdas dan berprestasi. Ahmad Heryawan kabarnya juga seorang hafiz Alquran dan banyak menerima penghargaan. Kebijakan sebuah negara seperti Indonesia, semestinya mendasarkan pada kepentingan umum, universal, inklusif, dan tidak bias kepentingan golongan tertentu. Lalu bagaimana dengan mahasiswa pemeluk agama lain? Apa juga akan mendapat beasiswa jika menghafal kitab suci mereka? 

Mayoritas penduduk di Jawa Barat memang muslim. Tapi tidak semestinya kebijakan di bidang pendidikan atau bidang lain lebih menguntungkan umat Islam dibanding umat lain. Logika ini sama artinya mengistimewakan satu kelompok dan menomorduakan kelompok lain. Dan itu diskriminatif. Semestinya pemerintah Jawa Barat berkonsentrasi meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia daerah itu yang berjalan lamban dan tak kunjung mencapai target. Indeks ini merupakan indikator keberhasilan pembangunan, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Dan Indeks Jawa Barat tahun lalu masih di bawah rata-rata nasional. 

Jumlah penduduk miskin di Jawa Barat, menurut angka BPS 2015, juga terbanyak di Indonesia. Mestinya beasiswa lebih diprioritaskan dan diperbanyak untuk siswa dari keluarga miskin itu. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!