Militer

Catatan Konsorsium Pembaruan Agraria, TNI berada di peringkat ketiga sebagai pelaku kekerasan dengan latar belakang konflik agraria. Setidaknya ada 16 kasus yang melibatkan TNI.

Selasa, 22 Agus 2017 05:22 WIB

Ilustrasi: pelibatan TNI dalam program agraria.

Ilustrasi: pelibatan TNI dalam mengejar target 5 juta sertifikasi tanah (foto: Antara/Rahmad)

Pemerintah merekrut juru ukur dari Tentara Nasional Indonesia. Pelibatan personil militer ini dilakukan untuk mengejar target sertifikasi 5 juta hektare lahan pada tahun ini. Kata Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil, ada tambahan 4 ribu personel juru ukur dari tenaga kontrak dan TNI  yang telah dilantik. Menteri tak menjelaskan dari ribuan orang itu berapa banyak yang berasal dari militer.

Pelibatan personel militer ini menuai protes dari sejumlah pegiat agraria  juga kemanusiaan. Pasalnya dalam sejumlah konflik lahan, pelibatan aparat seperti TNI malah berujung pada kekerasan. Catatan Konsorsium Pembaruan Agraria, TNI berada di peringkat ketiga sebagai pelaku kekerasan dengan latar belakang konflik agraria. Setidaknya ada 16 kasus  yang melibatkan TNI.

Pemerintahan di kabinet kerja sepatutnya belajar dari masa lalu. Ketika era orde baru berkuasa, nyaris di semua lini aparat TNI  dilibatkan dalam urusan sosial kemasyarakatan. Dari mulai menjadi kepala daerah sampai mengurusi olah raga yang tak ada kaitannya dengan masalah pertahanan negara. Dwi fungsi begitu istilahnya pada saat itu.

Catatan organisasi hak asasi manusia Setara  ada lebih dari 30 nota kesepahaman antara kementerian lembaga dengan TNI. Padahal UU TNI sudah menyebutkan pelibatan tentara dalam tugas selain perang harus berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. Ini artinya pelibatan TNI tanpa surat keputusan dari presiden sebagai tindakan ilegal. Sepatutnya pemerintah tak  melibatkan militer dalam urusan di luar tugas  pokoknya,  menegakkan dan mempertahankan keutuhan negara. 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".