Pembantaian Buaya

Di sana, mereka memburu buaya dan membantainya dengan brutal. Hampir 300 ekor buaya dari ukuran bayi hingga dewasa mati berlumur darah.

Rabu, 18 Jul 2018 09:29 WIB

Warga melihat ratusan bangkai buaya (Crocodylidae) usai dibantai warga setempat di Kabupaten Sorong,

Warga melihat ratusan bangkai buaya (Crocodylidae) usai dibantai warga setempat di Kabupaten Sorong, Papua Barat, Sabtu (14/7). (Foto:Antara/Olha Mulalinda).

Pemandangan mengerikan terjadi di salah satu kampung di Kabupaten Sorong, Papua Barat beberapa waktu lalu. Ratusan orang menghadiri pemakaman seorang warga bernama Sugito. Setelah itu  dengan kemarahan memuncak, warga bergerak menuju salah satu perusahaan penangkaran buaya sambil  membawa golok, kampak, cangkul, palu, batu, dan berbagai benda tajam atau tumpul. Di sana, mereka memburu buaya dan membantainya dengan brutal. Hampir 300 ekor buaya dari ukuran bayi hingga dewasa mati berlumur darah. 

Inilah kemarahan warga yang ingin membalas dendam karena Sugito tewas digigit buaya. Tidak jelas juga, apakah semua buaya itu menyerang Sugito, hingga mati dibantai massa. Kasus itu menjadi sorotan berbagai media luar negeri, dari Amerika hingga Australia dan memicu banyak kecaman. 

Secara alamiah, buaya merupakan binatang buas dan liar yang berbahaya bagi manusia. Karena itu mestinya manusia bersikap bijak dengan waspada dan menjauhi habitat buaya, biarpun itu di lingkungan perusahaan penangkaran berizin.

Buaya air tawar dan buaya muara merupakan satwa liar dilindungi di Indonesia. Hanya saja di Papua, satwa itu berstatus boleh diburu namun dengan kuota yang ditetapkan pemerintah. Pembantaian buaya yang terjadi di Sorong, Papua Barat itu jelas tidak dibenarkan oleh undang-undang, apalagi hanya bertujuan untuk melampiaskan kemarahan atau objek foto selfie

Kasus ini juga mesti menjadi pelajaran bagi tempat penangkaran satwa liar lainnya, agar tidak lalai menjaga keamanan, agar satwa mereka tidak membahayakan warga sekitar. Baik warga yang sembrono masuk penangkaran atau satwa yang lolos ke luar kandang. Edukasi pada publik juga penting, agar tidak terulang lagi peristiwa amuk massa yang menyerbu habitat satwa liar.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Pemerintah sebagai pengemban amanah konstitusi harus yakin dan percaya diri dalam mengendalikan konsumsi rokok. Konstitusi mengamanahkan agar konsumsi rokok diturunkan demi kesehatan masyarakat.