Pancasila

Survei CSIS pada 2017 menunjukkan ada 9 persen generasi milenial yang ingin Pancasila diganti. Angka ini terkesan sedikit, tapi resonansinya bisa kuat lewat media sosial.

Senin, 04 Jun 2018 05:28 WIB

Aksi melukis mural Pancasila

Dua anak turut dalam aksi bersama melukis bertema Panorama Mural Pancasila di Tinjomoyo, Semarang, Jawa Tengah. (Foto: Antara/Aditya Pradana Putra).

Film Lima membawa kita menjelajah berbagai situasi sosial yang dekat dengan kita. Ada keluarga yang berbeda agama lantas konflik yang muncul ketika ada anggota keluarga yang meninggal. Ada aksi main hakim sendiri di tengah masyarakat yang kadang terjadi tanpa ujung pangkal yang jelas. Ada juga diskriminasi berdasarkan SARA dengan soal klasik: pribumi versus nonpribumi. Sampai ke soal keadilan yang seringkali tak dirasakan masyarakat kecil. 

Realita ini terasa sangat dekat, atau bahkan mungkin pernah Anda alami langsung. Pancasila yang hadir tidak lewat kata-kata, apalagi hafalan. Meski sialnya, ini yang masih terjadi di sekolah-sekolah kita. Padahal hafalan ada di kasta terendah jika dibandingkan pada pengalaman sehari-hari. Hafalan tak membuat kita merasakan dan mengalami Pancasila. 

Sejak tahun lalu kita punya Badan Pembina Ideologi Pancasila. Badan ini dibentuk untuk memperkuat pengetahuan soal Pancasila. Alasannya, makin banyak tantangan yang mengancam Pancasila. Survei CSIS pada 2017 menunjukkan ada 9 persen generasi milenial yang ingin Pancasila diganti. Angka ini terkesan sedikit, tapi resonansinya bisa kuat lewat media sosial.

PR untuk membumikan Pancasila tak hanya diemban Badan itu, tapi kita pun perlu melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kreativitas, Pancasila akan tampak membosankan dan tak relevan. Padahal Pancasila adalah warisan penting yang bisa memandu masa depan negara ini. Mengutip Presiden Joko Widodo, Pancasila adalah berkah di tengah keberagaman Indonesia. Karena sesungguhnya Pancasila adalah rumah kita. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang