Propaganda ISIS

Gambaran indah yang banyak diunggah ke internet itu ternyata bohong belaka. Tak ada pekerjaan bergaji besar, tak ada layanan kesehatan gratis. Kini mereka hanya berharap bisa keluar dari Raqqa.

Kamis, 29 Jun 2017 09:00 WIB

Ilustasi. Kamp pengungsi Suriah. (Freedom House)

Ilustasi. Kamp pengungsi Suriah. (Freedom House)

Sebanyak 16 WNI saat ini diketahui berada di kamp pengungsi di Ain Issa, sekitar 50 kilometer di utara Raqqa. Kota ini disebut sebagai ibukotanya ISIS di Suriah. Mereka, di antaranya anak-anak, mengaku sengaja datang ke Raqqa karena tergiur janji kehidupan sejahtera di bawah kekuasaan Daulah Islamiyah (ISIS). Belakangan mereka kecewa dengan kenyataan di Raqqa. Gambaran indah yang banyak diunggah ke internet itu ternyata bohong belaka. Tak ada pekerjaan bergaji besar, tak ada layanan kesehatan gratis. Kini mereka hanya berharap bisa keluar dari Raqqa.

Sejak awal 2014, Raqqa identik dengan ISIS. Kelompok ini menjadikannya ibu kota 'kekhalifahan Islam'. Tak banyak yang tahu kondisi sesungguhnya di Raqqa. ISIS mengontrol arus informasi dengan ketat, ribuan milisi menjaga dan mengawasi kota tersebut.

PBB mencatat 100 ribu orang berusaha menyelamatkan diri dari kota maut itu sejak April untuk menghindari pertempuran. Sejauh ini Pemerintah Indonesia menyebut ada 500-600 WNI di Suriah. Mereka akan dipulangkan kembali ke tanah air. Sembari itu muncul kekhawatiran lain; apakah mereka hanya korban propaganda ISIS? Atau malah terpengaruh dan terlibat aksi radikal?

Membawa mereka kembali bukan perkara mudah. Termasuk memastikan kalau mereka tak keburu terpengaruh gagasan ISIS dan coba-coba beraksi di tanah air. Di sini butuh kejelian polisi maupun Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Jangan sampai ada simpatisan ISIS beraksi melakukan teror di Indonesia, seperti yang terjadi di Mapolda Sumatera Utara baru-baru ini.  Upaya pencegahan juga perlu serius dilakukan dengan terus memburu kelompok pendukung ISIS yang mengiming-imingi kehidupan lebih baik di Suriah. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.