Aktivitas penjualan daging di Pasar. (Foto: Friska)

Aktivitas penjualan daging di Pasar. (Foto: Friska)

Tradisi meugang atau menyambut bulan Ramadan di Aceh tahun ini tak sesemarak tahun-tahun sebelumnya. Salah satunya disebabkan karena mahalnya daging sapi atau kerbau di pasaran.

Meugang adalah tradisi menyambut Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha dengan masakan serba daging. Daging tidak hanya dinikmati kaum berada, tapi juga kaum miskin. Selama beberapa tahun terakhir, harga daging terutama sapi selalu melonjak menjelang puasa dan lebaran. Jika di pasaran harganya saat ini mencapai Rp130 ribu rupiah per kilogram, maka di Aceh, harga daging jauh lebih tinggi, dan merupakan yang tertinggi di Indonesia.

Di Kabupaten Bireun, daging sapi mencapai Rp170 ribu per kilogram. Sementara di Aceh Barat Daya, harganya tembus Rp190 ribu perkilogram.

Rasanya bulan Ramadan kini tak cuma dijadikan bulan untuk memperbanyak amal ibadah. Melainkan juga dimanfaatkan oleh para cukong, makelar, tengkulak untuk mengeksploitasi warga dengan menaikkan harga jual bahan kebutuhan pokok.

April lalu Komisi Pengawas Persaingan Usaha KPPU menghukum lebih dari 30 perusahaan penggemukan sapi karena dianggap bersalah terlibat kartel atau persekongkolan untuk mempermainkan harga daging secara gila-gilaan. Tapi entah mengapa sanksi bagi puluhan perusahaan itu tak terlihat dampaknya. Harga daging tetap tidak masuk akal.

Presiden Joko Widodo sudah memerintahkan semua pihak untuk menurunkan harga daging menjadi Rp80 ribu per kilogram. Tapi siapa sekarang ini yang punya kuasa menentukan harga daging?

Ketika struktur pasar perdagangan daging sapi masih lebih banyak dikuasai oleh importir dan cukong, keinginan pemerintah menurunkan harga hingga setengahnya mungkin sulit dicapai.

Pekan pertama bulan Ramadan ini akan masuk sekitar 27 ribu ton daging sapi impor. Efeknya mungkin baru akan terasa di pekan kedua. Kalau toh harga bisa ditekan menjadi Rp80 ribu per kilogram, itu hanya terapi instan. Impor adalah model pemadam kebakaran, solusi jangka pendek yang tidak menyelesaikan akar masalah.

Kita berharap KPPU bekerja lebih keras lagi, bersinergi dengan kepolisian dan lembaga lain: untuk menegakkan hukum terhadap praktik-praktik haram dalam perdagangan memanfaatkan bulan Ramadan. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!