Sekolah Aman dan Nyaman

Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebut 84 persen siswa mengaku pernah mengalami kekerasan di sekolah. Sementara 75 persen mengaku pernah melakukan kekerasan di sekolah.

Kamis, 03 Mei 2018 07:40 WIB

Ilustrasi: Kekerasan dalam pendidikan

Ilustrasi: Kekerasan dalam pendidikan (foto: Antara/Yusran Uccang)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Belum lama ini kita dikejutkan oleh aksi seorang guru sekolah di Serdang Bedagai, Sumatera Utara yang menghukum siswanya dengan perintah menjilati WC sekolah. Hukuman diberikan lantaran sang murid tidak membawa kompos untuk tanaman bunga di sekolah. Hukuman tak mendidik juga diterima sembilan orang siswa di Purwokerto yang ditampar oleh guru mereka karena terlambat masuk kelas. Akibat tamparan itu para siswa mesti menjalani perawatan karena gangguan pendengaran. Berbagai peristiwa tindak kekerasan terjadi di sekolah. Bahkan video semacam itu mudah ditemui di media sosial.

Di Hari pendidikan Nasional kemarin, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membeberkan fakta yang bikin prihatin; sekolah belum menjadi tempat yang aman bagi anak. Ini lantaran masih maraknya kasus kekerasan di dunia pendidikan, mulai dari kasus kekerasan fisik, kekerasan psikis sampai kekerasan seksual di lingkungan sekolah.

Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebut sebanyak 84 persen siswa mengaku pernah mengalami kekerasan di sekolah. Sementara 75 persen siswa mengaku pernah melakukan kekerasan di sekolah.

Seperti lingkaran setan, aksi kekerasan di sekolah tak hanya dilakukan guru kepada siswa. Kita juga mendengar murid dan wali murid yang tega menganiaya guru. Parahnya beberapa kasus tergolong penganiayaan berat, karena mengakibatkan guru harus merengang nyawa, seperti yang dialami guru Budi di Sampang, Madura. Belum lagi maraknya aksi kekerasan yang terjadi antar siswa dalam bentuk perundungan (bullying), yang angkanya mencapai 50 persen.

Melihat fakta ini, makin jelaslah bahwa Hari Pendidikan Nasional yang saban tahun diperingati ini tak bisa lagi berhenti pada kegiatan seremonial belaka. Lingkaran kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah harus segera dihentikan. Sekolah harus kembali menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak didik. Dan untuk itu perlu senergitas semua pihak, mulai dari guru hingga birokrat pendidikan, orang tua hingga siswa.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sedang melaksanakan Program Penguatan Reformasi Kepabeanan dan Cukai (PRKC). Program ini sudah dimulai sejak Desember 2016 hingga saat ini.