Rekonsiliasi

Belajar dari kasus sebelumnya di provinsi yang sama, pengungsi Ahmadiyah di asrama Transito Mataram sudah 12 tahun tak bisa kembali ke kampung halamannya. Jangan sampai hal serupa terulang.

Selasa, 22 Mei 2018 05:54 WIB

Kondisi pascapenyerangan terhadap Jemaah Ahmadiya NTB

Kondisi pascapenyerangan terhadap jamaah Ahmadiyah Desa Gereneng Kecamatan Sakra Timur lombok Timur (Foto: FB Kandali Achmad Lubis)

Pengurus Ahmadiyah Nusa Tenggara Barat mengeluhkan tak bisa menjenguk jamaahnya yang mengungsi di Aula Kepolisian Lombok Timur. Pascaserangan dan perusakan rumah mereka pada Sabtu lalu, puluhan orang itu terpaksa meninggalkan rumah mereka di desa Greneng. Menurut pengurus Ahmadiyah kepolisian menolak kehadiran mereka lantaran para pengungsi itu sedang menjalani terapi untuk menghilangkan trauma pascapenyerangan.

Ahmadiyah mendesak mereka segera bisa kembali untuk bekerja dan bersekolah seperti semula. Aparat pemerintah daerah dan kepolisian sepatutnya mendengarkan permintaan itu. Belajar dari kasus sebelumnya di provinsi yang sama, pengungsi Ahmadiyah di asrama Transito Mataram sudah 12 tahun tak bisa kembali ke kampung halamannya. Jangan sampai hal serupa terulang pada jamaah Ahmadiah asal Desa Greneng.

Pengembalian bisa dilakukan, bila aparat tegas terhadap para pelaku penyerangan dan perusakan. Dalam sejumlah kasus kekerasan yang dilakukan segerombolan orang itu, minim ada tindakan tegas. Pembiaran, membuat leluasa terjadinya tindak kekerasan terhadap kelompok minoritas. Meski di bulan suci Ramadan bukan halangan untuk mereka melampiaskan nafsu merusak.

Mumpung masih dalam suasana Ramadan  dan tak lama lagi hari raya tiba, ada baiknya upaya rekonsiliasi segera dilakukan. Termasuk bagi  pengungsi  Syiah  Sampang, Jawa Timur dan Ahmadiyah di asrama Transito. Meminjam ucapan Gubernur NTB Zainul Majdi saat menemui warganya yang berkonflik itu,  persaudaraan dan kekeluargaan harus dijaga, bila tidak maka yang muncul adalah kebencian. Semangat rekonsiliasi semacam  itulah yang harus dikedepankan untuk menyingkirkan perbedaan pandangan.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang