Buruh Bersatulah

Karena waktu hanya terdiri dari 24 jam, maka tuntutan buruh kala itu, pembagiannya adalah 8 jam bekerja, 8 jam istirahat, dan 8 jam rekreasi. Masihkah angka itu relevan?

Selasa, 01 Mei 2018 14:51 WIB

Aksi teatrikal saat memperingati Hari Buruh di Surabaya

Aksi teatrikal saat memperingati Hari Buruh di Surabaya, Selasa (1/5). Mereka menyeruhkan sejumlah tuntutan, salah satunya pemnghapusan sistem kerja alih daya. (Foto:Antara/Zabur Karuru)

Ratusan ribu buruh rencananya akan menggelar aksi serentak di ratusan kabupaten/kota. Aksi dalam rangka peringatan hari buruh 1 Mei itu mengusung sejumlah agenda. Dari mulai mendesak revisi Peraturan Pemerintah tentang pengupahan, diskriminasi buruh  perempuan, pemenuhan hak,  sampai dukungan pada salah satu calon presiden tertentu. Sah-sah saja apapun agenda yang diusung oleh sejumlah organisasi para pekerja itu.

Untuk aksi kali ini, di ibu kota kepolisian menyiagakan puluhan ribu personil. Mabes Polri memastikan tak ada peningkatan status keamanan. Alasannya mengikuti konsepsi pemerintah Mayday is Funday. Kata pejabat di kepolisian slogan itu berarti memfasilitasi dan mengamankan hari buruh  untuk bersenang-senang.

Konsepsi pemerintah itu menuai penolakan. Bagi organisasi para buruh, konsepsi itu seperti ingin membelokkan sejarah. Bagi mereka, slogan itu bisa  digunakan bila nasib jutaan pekerja itu sudah sejahtera. Sejahtera tanpa eksploitasi dan penindasan. Itulah yang diperjuangkan buruh pada seratusan tahun silam,  memangkas jam kerja dari 20 jam menjadi 8 jam kerja.

Karena waktu hanya terdiri dari 24 jam, maka tuntutan buruh kala itu, pembagiannya adalah 8 jam bekerja, 8 jam istirahat, dan 8 jam rekreasi. Masihkah angka itu relevan? Gaji setara upah minimum yang tak sesuai dengan kebutuhan hidup membuat banyak buruh pabrik terpaksa lembur untuk menambah pendapatan. Efeknya, tentu berkurang pula jam untuk istirahat dan rekreasi. Ini artinya, apa yang diperjuangkan para buruh pada seratusan tahun silam masih relevan. Kesejahteraan lahir dan batin bagi para buruh.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.