20 Tahun Reformasi

Mereka diusir dari desa mereka oleh sekelompok massa. Ketika warga dievakuasi dan menginap di kantor polisi, kampung mereka diserang lagi.

Senin, 21 Mei 2018 05:07 WIB

Pascapenyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah NTB

Pascapenyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah Desa Gereneng Kecamatan Sakra Timur Lombok Timur (Foto: Kandali Achmad Lubis).

Hari ini kita memperingati 20 tahun reformasi. Tapi apa yang terjadi? Korupsi menjadi-jadi. Bayang-bayang Orde Baru terus mengintai. Pertanda lain yang menunjukkan kalau kita belum beranjak jauh adalah makin rendahnya toleransi di tengah masyarakat.

Akhir pekan kemarin, rumah warga Ahmadiyah di Lombok Timur dirusak. Mereka diusir dari desa mereka oleh sekelompok massa. Ketika warga dievakuasi dan menginap di kantor polisi, kampung mereka diserang lagi. Kabar yang beredar, target penyerangan adalah mengusir mereka dari Lombok Timur. Alasannya, mereka dianggap berbeda.

Sebetulnya cukup pakai akal sehat saja untuk paham soal ini. Jemaah Ahmadiyah adalah warga negara Indonesia. Punya hak yang sama dengan warga negara lainnya. Punya hak untuk beribadah dan berkeyakinan. Tapi nyatanya, ini sulit betul terwujud. Pengusiran terhadap Ahmadiyah pun bukan kali ini saja. Lombok jadi saksi, ada jemaah Ahmadiyah yang sudah 12 tahun terusir dari rumah mereka. 

Coba tempatkan diri kita pada posisi jemaah Ahmadiyah. Tidak banyak yang mereka minta: damai menjalankan ibadah. Keinginan itu sudah lama dipendam Ahmadiyah, jemaat GKI Yasmin di Bogor atau HKBP Filadelfia di Bekasi. Dan ini hanya menunjukkan ada yang salah dengan cara kita menafsir perbedaan. Setara Institute menyebut, intoleransi adalah tangga pertama menuju terorisme; dan terorisme adalah puncak intoleransi. Kita sudah disodorkan fakta pahit berkali-kali soal buruknya dampak terorisme. Tanggung jawab juga ada di kita untuk mengikis intoleransi sejak dalam pikiran. Ini adalah sesedikit-sedikitnya langkah yang bisa dilakukan setiap orang supaya Indonesia tak perlu disergap ketakutan akan perbedaan. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang