Buruh adalah Kita

Yang juga ikut menyumbang keburukan adalah kesenjangan ekonomi dan pendapatan yang kian lebar. Jumlah kekayaan 4 orang kaya di Indonesia setara dengan jumlah kekayaan 100 juta penduduk Indonesia.

Senin, 01 Mei 2017 02:15 WIB

Demo buruh 1 Mei. (KBR/Danny)

Demo buruh 1 Mei. (KBR/Danny)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Chicago, bulan Mei, abad ke-19. Ratusan ribu buruh di sana turun ke jalan. Desakan mereka adalah 8 jam kerja, 8 jam istirahat dan 8 jam rekreasi. Di tengah demonstrasi para buruh, empat orang ditembak mati oleh polisi. Inilah yang kemudian mendorong dunia memperingati 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional atau May Day.

Dan ini yang kita rasakan sampai sekarang: delapan jam kerja. Itu tak akan terjadi tanpa perjuangan penuh darah dan air mata berabad sebelumnya. May Day adalah perlawanan, dan pengingat akan perlawanan itu. Apalagi hingga sekarang, situasi yang dihadapi para buruh masih buruk.

Catatan Hitam Buruh Perempuan, misalnya, mencatat negara telah ikut menjadi pelaku kekerasan dan pelanggaran hak terhadap buruh – khususnya buruh perempuan. Kemudahan investasi dan usaha yang dilakukan pemerintah bagi para pengusaha, ternyata justru meminggirkan kesejahteraan buruh. Hal lain yang secara rutin menjadi sorotan dalam Hari Buruh adalah sistem kerja kontrak dan outsourcing yang menghantui buruh dengan ketakutan akan PHK. Ini masih ditambah lagi dengan tindakan represif terhadap buruh yang memperjuangkan hak mereka atau upah murah.

Yang juga ikut menyumbang keburukan adalah kesenjangan ekonomi dan pendapatan yang kian lebar. Lembaga riset Oxfam menyebut, jumlah kekayaan 4 orang kaya di Indonesia setara dengan jumlah kekayaan 100 juta penduduk Indonesia. Kebijakan pemerintah masih banyak yang belum memihak pada buruh, ikut serta juga menyumbang pada ketimpangan tadi.

Buruh bukan sekadar angka statistik. Buruh adalah manusia yang wajib dihargai atas kerjanya. Karena buruh adalah kita. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.