Demo anti komunisme dan PKI (Foto: Antara)

Demo anti komunisme dan PKI (Foto: Antara)

Apa salahnya mencintai kopi Indonesia?

Mestinya tak ada.  Ratusan juta orang gemar menyruput kopi Nusantara.  Kecanduan mereka menghidupi 2 juta petani yang bergantung pada kebun-kebun kopi.  Setiap tahun, ekspor kita disumbang milyaran dollar dari bubuk hitam penyegar semangat itu. Dan masih akan meningkat di tahun-tahun mendatang.  Kopi adalah salah satu komoditas andalan Indonesia. Tak ada yang salah mencintainya.

Hanya mata rabun yang salah melihatnya.  Mata yang tak bisa membedakan kenyataan dan canda. Seperti para polisi di Maluku Utara itu. Mereka gagal menangkap canda kaos “Pecinta Kopi Indonesia” yang disingkat PKI.  Dan melihat hantu PKI, di slengekan anak-anak muda pegiat masyarakat adat itu.  Polisi pun menangkap Adlun Fiqri dan Yunus Al Fajri dengan tuduhan menyebarkan komunisme. Ya hanya karena kaos PKInya itu. Kaos Pecinta Kopi Indonesia.

Dengan tuduhan berlapis, dua anak muda itu terancam menghabiskan bertahun-tahun masa produktifnya di dalam penjara.  Kesia-siaan yang harus dijalani sebuah bangsa, akibat mata rabun dan tertutupnya pikiran sebagian petingginya yang enggan melihat perubahan. 

Rabun mata bukan monopoli polisi Maluku Utara. Yang paling parah ada di sekitar jantung kekuasaan, Menteri Pertahanan.  Jendral Ryamizard Ryacudu tampil mewakili kejumudan yang susah dicari bandingnya.  Ia perintahkan pemilik buku-buku kiri dengan sukarela menyerahkan koleksi kepadanya.  Jendral ini juga berterus-terang menolak perintah Presiden Jokowi untuk membongkar kuburan korban Peristiwa 65.  “Jangan bongkar masa lalu. Bisa jadi konflik lebih parah,” katanya. 

Jenderal Ryacudu menunjukkan ketidakpatuhan terbuka pada Presiden, Panglima Tertinggi TNI; dan sikap itu sangat tidak layak.  Kalau memang tak lagi sejalan, sepatutnya Menhankam mengundurkan diri dari jabatannya dengan kesatria; dan tidak menjadi musuh dalam selimut untuk presiden yang dipilih secara sah oleh masyarakat Indonesia.  Sikapnya sangat mengganggu proses rekonsiliasi yang sedang diupayakan oleh Presiden.

Respon berlebihan pada simbol-simbol semacam kaos Pecinta Kopi Indonesia itu, kadang disebut fobia pada hantu komunis. Sebetulnya ketakukan itu lebih parah dari fobia. Hantu tak bisa dibunuh.  Sedang komunis, dan mereka yang dituduh simpatisannya sudah lama dibunuh dari muka bumi Indonesia. Sudah lama dilenyapkan. Mereka tak setangguh hantu, yang dapat bangkit kapan saja.

Lagipula, dunia menunjukkan dengan terang kebangkrutan komunisme di banyak tempat. Rusia, Kuba, Cina,  Eropa Timur berubah  mendekat ke ekonomi pasar. Bukan lagi menganut paham komunis seperti dibayangkan para pendiri negeri itu, seperi Lenin dan kawan-kawannya. Yang masih keras mencoba tegakkan benang basah, mungkin hanya Korea Utara.  Jadi, ketakutan pada bangkitnya komunisme adalah ketakutan mereka yang malas mengakui bahwa dunia sudah berubah.  Indonesia bukan kekecualian.

Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan jernih menangkap gejala ini.  Ia tidak yakin komunisme akan bangkit di Indonesia.  Pengalaman di tempat-tempat lain pun menunjukkan, paham ini sudah ditinggalkan penganutnya.  Hanya di kepala pemimpin Korea Utara, dan sebagian petinggi tentara kita, bahaya itu masih dilihat seperti setengah abad lalu.

Kalau ada kekuatan revolusioner sekarang ini, bukanlah partai buruh yang berbaris rapi seperti yang pernah dibayangkan Lenin.  Atau petani bersenjata yang mengepung kota, seperti dianjurkan Mao Tse Tung.  Perubahan-perubahan besar di zaman ini bermula dari transisi analog ke digital, inovasi yang kadang datangnya tak terduga. Google, Facebook, adalah dua saja dari ribuan atau ratus ribuan inovasi yang memperkenalkan cara baru dan memudahkan hidup manusia.  Inovasi yang datang tiap hari, dari anak-anak muda pengubah dunia.

Facebook sekarang digunakan hampir 2 milyar orang.  Kira-kira satu dari tiga orang di dunia menggunakannya.  Ia memang bukan kekuatan perintah, seperti partai, tapi ia melibatkan dan membuat orang dalam derajat tertentu mengikuti rancangan dan keinginannya. Ia membujuk orang menghabiskan waktu berkihmat dengannya.  Ia lebih berpengaruh dan luas keanggotaannya dari partai komunis manapun.  Termasuk partai komunis China.

Jadi, kalau mau cari kekuatan revolusioner, yang radikal mengubah hidup dan tatanan masyarakat kita, para petinggi jangan rabun.  Jangan tergoda oleh kaos pecinta kopi. Atau simbol-simbol sejenis.  Tapi arahkan perhatian pada dunia digital.  Kuasai nadi perubahan itu, agar berguna untuk masyarakat.

Secepatnya, rabun pada bahaya komunis itu mesti dihilangkan dari mata petinggi kita.

Penulis adalah pendiri KBR

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!