Tunjangan Sewa Rumah

Lalu mau diapakan ratusan rumah dinas yang ada? Toh ditempati atau tidak, biaya pemeliharaan tetap berjalan, kan?

Kamis, 26 Apr 2018 11:11 WIB

Ilustrasi: Rumah tinggal

Ilustrasi: Rumah tinggal

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Gagal dengan wacana membangun apartemen di sekitar gedung DPR,  anggota dewan kini muncul dengan usul mengganti fasilitas rumah dinas dengan uang kompensasi atau tunjangan sewa rumah. Kata mereka; efisiensi. Ketua DPR  Bambang Soesatyo mengatakan ini telah dibicarakan dengan pimpinan fraksi dan komisi. Besaran uang pengganti diserahkan pada pemerintah, jika setuju dengan wacana itu. Kata dia, memberi uang tunjangan sewa rumah jauh lebih hemat ketimbang mengeluarkan biaya puluhan miliar untuk pemeliharaan 560 rumah dinas di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. 

Sudah mahal, banyak rumah dinas sia-sia belaka, tidak ditempati. Ini dengan berbagai alasan. Salah satunya, soal jarak. Padahal maksudnya ini untuk lebih mendekatkan jarak antara tempat tinggal dengan kantor. Kondisi rumah juga ada yang kurang layak untuk anggota DPR yang punya keluarga besar.

Niat efisiensi anggaran dari anggota dewan tentu kita apresiasi. Terlebih jika uang tunjangan perumahan itu tidak malah makin membebani anggaran negara. Tapi apa iya memberikan tunjangan perumahan jauh lebih hemat ketimbang memanfaatkan rumah yang sudah disediakan? Lalu mau diapakan ratusan rumah dinas yang ada? Toh ditempati atau tidak, biaya pemeliharaan tetap berjalan, kan?

Jelas ini mesti dihitung kembali dengan baik. Jangan UUD alias Ujung-Ujungnya Duit.  Ingat, pada pemilu tahun depan, anggota DPR akan bertambah hingga 575 orang.  Jika betul berniat hemat, mestinya itu ditunjukkan oleh anggota dewan dengan sikap hidup sederhana, bukan melulu menuntut keistimewaan.  

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Seberapa besar ketertarikan generasi milenial terhadap koperasi di Indonesia saat ini?