Oplosan

'Ini gila!' kata Wakapolri Syafrudin.

Kamis, 12 Apr 2018 05:31 WIB

Korban miras oplosan

Total 103 korban miras oplosan masuk RSUD Cicalengka dengan 29 dirawat di IGD, 19 rawat inap, 31 meninggal dan sisanya telah dibawa pulang oleh keluarganya. (Foto: Antara/Novrian Arbi).

Minuman keras (miras) oplosan kembali makan korban. Tak tanggung-tanggung, sejak pekan lalu sudah 82 orang meregang nyawa lantaran menenggak miras oplosan. Korban berjatuhan di Jagakarsa, Jakarta Selatan dan beberapa daerah di Jawa Barat. Lantaran banyaknya korban tewas, Pemerintah Kabupaten Bandung menetapkan peristiwa itu sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

'Ini gila!' kata Wakapolri Syafrudin. Dia lantas memerintahkan jajaran Polda di seluruh Indonesia untuk memberantas peredaran miras oplosan ini: memburu para penjual, pengoplos, dan distributornya. Mereka yang berada di balik beredarnya miras oplosan ini harus dihukum berat. Orang nomor dua di Kepolisian ini yakin korban akibat miras oplosan jauh lebih besar dari yang terungkap saat ini.

Berulangnya kasus miras oplosan memang tidak bisa dibiarkan. Tapi apakah upaya reaktif dengan memburu produsen dan distributornya bakal menyelesaikan masalah?

Upaya membumihanguskan produsen dan distributor miras oplosan kecil kemungkinan bisa berhasil jika tak dibarengi edukasi soal sifat senyawa alkohol yang bisa membahayakan kesehatan hingga mengakibatkan kematian.

Hal lain yang juga patut menjadi pertimbangan pemerintah adalah mengkaji kembali larangan penjualan minuman keras yang terbit pada 2015 lalu. Lembaga riset independen Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengungkap fakta, larangan itu justru mendorong konsumen mencari dan mengonsumsi miras oplosan. Mereka memilih minuman berbahaya lantaran gampang ditemui dan murah ketimbang minuman bercukai yang harganya bisa berlipat-lipat. Akibatnya angka kematian terus meningkat hingga lebih 500 orang kurun 2014 hingga 2018.

Terbukti tak bisa lagi pakai solusi oplosan untuk mengatasi ribuan nyawa yang melayang sia-sia akibat miras oplosan. Saatnya pemerintah berpikir realistis dan rasional untuk mencari solusi terbaik mengatasi kasus yang terus berulang ini.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.