Kendeng Menabuh Lesung

Memukul lesung berarti membunyikan tanda bahaya. Mereka khawatir bakal terjadi kerusakan lingkungan jika pegunungan Kendeng diizinkan ditambang untuk bahan baku semen.

Rabu, 12 Apr 2017 23:36 WIB

Petani Kendeng menabuh lesung di depan Istana Merdeka.

Sejumlah petani Pegunungan Kendeng menabuh lesung saat menggelar aksi di depan Istana Merdeka (Foto: Antara).

Nyaring lesung diiringi lantunan sinden khas Jawa memecah hening di seberang Istana, siang kemarin. Sembilan Kartini Kendeng kembali menabuh lesung. Mereka mewakili ribuan petani di Pegunungan Kendeng mulai dari Kabupaten Lamongan, Tuban, Rembang, Blora, Grobogan, Pati dan Kudus. Aksi serupa pernah dilakoni 2016 lalu.

Memukul lesung berarti membunyikan tanda bahaya. Mereka khawatir bakal terjadi kerusakan lingkungan jika pegunungan Kendeng diizinkan ditambang untuk bahan baku semen. Kali ini lesung ditabuh lebih keras. Pada saat yang bersamaan tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yang dibentuk atas perintah Presiden Joko Widodo menyampaikan laporannya.

Selama tujuh bulan tim melakukan kajian untuk mengetahui bisa-tidaknya kawasan gunung kapur itu dieksploitasi dan sejauh mana dampaknya bagi lingkungan. Hasil kajian itu juga yang akan menjawab apakah PT Semen Indonesia masih bisa ngotot mempertahankan lokasi area tambang bahan baku semen di kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Watu Putih.

Sayang jawaban belum akan ada dalam waktu dekat. Masih akan ada kajian lingkungan tahap dua. Masih belum ada keputusan tentang status CAT Watuputih. Masih perlu studi untuk bisa memutuskan kegiatan operasional tambang semen layak atau tidak dilakukan di karst Rembang.

Bola kini di tangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Kementerian ini akan menentukan apakah karst Rembang masuk wilayah Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK). Jika iya, segala aktivitas penambangan harus dihentikan.

Para petani tentu tak berharap hasil sebaliknya. Dan karena itu di hari-hari mendatang jerit lesung masih akan terdengar di depan Istana. Desakannya sama; singkirkan pabrik dan pertambangan semen di Kendeng.
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.