Ilustrasi Siti Aisyah di Malaysia.

Ilustrasi Siti Aisyah ditahan di Malaysia.

Siti Aisyah mungkin sedang ketakutan di tahanan. Sendirian di Malaysia, tanpa pendampingan hukum meski sudah beberapa hari berlalu. 

Dia adalah orang Indonesia yang ditangkap karena diduga terlibat pembunuhan terhadap Kim Jong Nam, kakak tiri pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Ia masih terus diperiksa polisi. Sesuai aturan di sana, pada masa tambahan pemeriksaan selama tujuh hari, tetap tidak boleh ada akses kekonsuleran bagi Aisyah. Artinya, Aisyah tak dapat pendampingan hukum apa pun. 

Berada sendirian di tengah belitan kasus hukum sungguh tak enak. Apalagi menurut polisi Malaysia, Aisyah mengaku tak sadar kalau diperdaya jadi pembunuh. Ia mengira hanya mengisi acara lelucon di sana untuk menyemprotkan cairan ke orang di bandara. 

Sejak awal, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sudah minta akses konsuler ini langsung ke Menlu Malaysia. Namun aturannya memang tak memungkinkan. Selagi tim pengacara disiapkan, akses itu tetap ditagih dan didorong karena itu adalah hak Aisyah. 

Kegesitan Pemerintah dalam mengawal kasus ini harus diapresiasi. Di sisi lain, ini menunjukkan betapa rentannya posisi buruh migran dalam berbagai kasus. Yang mengintai mereka tak hanya kasus trafficking, tapi juga diperalat -  seperti yang diduga dialami oleh Aisyah. Kasus Aisyah jadi pelajaran betul supaya tak mudah diperdaya orang, di mana pun itu. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!