Kampanye SARA Kalah!

Apa yang ditunjukkan dari hasil hitung cepat ini? Bahwa kampanye berbau SARA tak mempan mempengaruhi masyarakat.

Kamis, 16 Feb 2017 00:36 WIB

Petugas KPPS menghitung suara Pilkada.

Petugas KPPS melakukan penghitungan perolehan suara Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017 di TPS (foto: Antara)

Pelaksanaan Pilkada serentak 2017 usai sudah. Beberapa lembaga survei mencatat kemenangan sementara sejumlah kepala daerah seperti di DKI Jakarta, Gorontalo, dan Banten. Khusus Jakarta, hampir semua yang menggelar  hitung cepat, menempatkan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat di posisi teratas,  diikuti Anies Baswedan-Sandiaga Uno, dan di urutan buncit Agus Harimurti Yudhoyono-Silvyana Murni.

Apa yang ditunjukkan dari hasil hitung cepat ini? Bahwa kampanye berbau SARA tak mempan mempengaruhi masyarakat. Seperti kita tahu, kampanye seperti ini kerap menyerang Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ujungnya, Ahok diperkarakan di pengadilan lantaran dianggap menistakan agama. Proses peradilan masih terus berlanjut, lengkap dengan berbagai hingar bingarnya. 

Sesungguhnya kampanye bernada SARA sudah muncul sejak Pemilihan Presiden 2014. Saat itu yang bertarung adalah Joko Widodo-Jusuf Kalla melawan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Jokowi digempur sangkaan keturunan Cina, PKI, bahkan ada pembicaraan di media sosial yang meragukan kemampuan shalat Jokowi. Ada juga Tabloid Obor yang menampilkan 14 berita panjang hampir semuanya menyudutkan Jokowi. Tapi kemenangan telak Jokowi JK meruntuhkan kampanye hitam tersebut.

Dua contoh nyata ini, semestinya jadi pelajaran semua pihak: jangan lagi gunakan isu SARA demi memenangkan memuluskan jalan menjadi pemimpin. Kita sudah membuktikan kalau kampanye SARA selalu kalah. Dan ini menunjukkan bahwa kita semua masih sama-sama menjaga keberagaman di negeri ini.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!