Wayang Kulit

Suatu budaya, yang seolah-olah dipertentangkan dengan agama tertentu, bisa jadi dimaknai secara salah oleh mereka yang tak berpikiran terbuka.

Senin, 23 Jan 2017 00:16 WIB

Ilustrasi wayang kulit

Ilustrasi: wayang kulit.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Salah satu hal yang paling banyak diperbincangkan media sosial kemarin adalah ‘wayang kulit’. Bukan karena ada pertunjukan yang menyedot banyak penonton, tapi karena spanduk yang terbentang di wilayah Jakarta Pusat. Tulisannya: ‘wayang bukan budaya dan syariat Islam’. Di spanduk juga tertera nama kelompok Aliansi Masyarakat Muslim se-Jakarta Pusat. Sampai sekarang belum ada kejelasan soal siapa kelompok tersebut. 

Di tengah masa Pilkada seperti sekarang, mesti hati-hati menyikapi spanduk seperti ini. Spanduk soal wayang kulit ini diduga muncul terkait wayang kulit yang digelar Djarot Saiful Hidayat selaku calon wakil gubernur Jakarta. Apa betul keduanya terkait? Atau sengaja dihembuskan untuk memanaskan situasi? Atau ini hoax?

Terlepas dari itu, kehadiran spanduk tersebut menggambarkan betapa agama masih saja jadi sumber ‘sumbu pendek’ di tengah masyarakat. Suatu budaya, yang seolah-olah dipertentangkan dengan agama tertentu, bisa jadi dimaknai secara salah oleh mereka yang tak berpikiran terbuka. Wayang memang bukan bagian dari syariat Islam. Tapi wayang jadi elemen penting bagi penyebarluasan agama Islam di tanah air. Pada zaman Wali Songo, wayang menjadi media dakwah dan syiar Islam. Wayang dianggap berhasil memperkenalkan konsep Islam kepada masyarakat yang saat itu menganut kepercayaan animisme, dinamisme atau Hindu.

Kebudayaan dan agama secara alamiah akan hidup berdampingan di tengah masyarakat. Akulturasi inilah yang memperkaya dan memberi keunikan bagi suatu agama di daerah tertentu. Tidak perlu dipertentangkan atau dikotak-kotakkan. Dan untuk ini, kita mesti menerimanya dengan pikiran terbuka.  

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".