ilustrasi: karhutla

ilustrasi: karhutla

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan kebakaran hutan tahun ini berpotensi lebih buruk ketimbang tahun lalu. Secara umum, kata Menteri Siti, kondisi lebih kering, sehingga tahun ini diperkirakan bisa lebih buruk dibandingkan tahun lalu.

Kondisi di lapangan mengarah ke sana. Dalam beberapa hari terakhir, muncul titik panas di sejumlah kabupaten di Riau. Sementara itu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan potensi ancaman cuaca lokal dan meningkatnya titik api perlu diwaspadai. Dan ini berarti ada setidaknya 8 provinsi yang mesti siaga kebakaran hutan dan lahan. 

Untuk itu, Menteri Siti mengatakan, penanganan tidak boleh terlambat. Titik api dilihat sebagai titik api yang perlu segera ditangani - tidak lagi dilihat besar kecil potensi kebakarannya. Ia juga sudah mengeluarkan surat peringatan waspada bagi semua gubernur dan dunia usaha terkait kebakaran hutan dan lahan. Kewaspadaan dini jadi kunci gerak cepat  yang harus dilakukan di lapangan. Seiring dengan itu, restorasi gambut juga harus jadi perhatian. Presiden Jokowi sudah pasang target 400 ribu hektar gambut mesti dipulihkan. 

Tahun lalu, data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan kalau Indonesia berhasil menurunkan jumlah titik api nasional sampai 85 persen. Pemerintah juga mengklaim ada penurunan jumlah kasus dalam dua tahun belakangan. Ini mesti jadi pelecut untuk makin waspada. Pengalaman dua tahun terakhir mesti jadi pelajaran penting, supaya karhutla tak jadi kebiasaan.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!