Anak Orangutan Sumatra Ditemukan Mati di Bukit Lawang

"Posisi ketemu jasad orangutan ini dibawa induknya yang kebetulan yang bernama Jeki."

Rabu, 11 Jul 2018 19:02 WIB

Ilustrasi: Orangutan Sumatra (Pongo abelii) yang diperkirakan berumur 2,5 tahun berada di kandang usai dievakuasi petugas. (Foto: ANTARA/ Septianda P)

KBR, Medan - Anak Orangutan Sumatra (Pongo Abelii) ditemukan mati di wilayah Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Kepala Bidang Teknis Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Adhi Nurul Hadi menjelaskan jasad anak orangutan itu ditemukan pada 30 Juni 2018. Dan dievakuasi sehari setelahnya.

"Saat ditemukan orangutan yang sudah mati itu tanggal 30 Juni oleh seorang pemandu dari HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) di Bukit Lawang," kata Ade di Medan, Rabu (11/7/2018).

"Posisi ketemu jasad orangutan ini dibawa induknya yang kebetulan yang bernama Jeki. Individu anak orangutan ini diperkirakan umur 3 tahun dengan jenis kelamin jantan," tambahnya lagi.

Ketika menerima laporan dari seorang pemandu mengenai temuan jasad anak orangutan, petugas langsung bergerak untuk melakukan evakuasi. 

"Petugas esok harinya segera ke lokasi untuk mengecek keberadaan orangutan tersebut. Kebetulan untuk orangutan ini kami banyak mitra dengan NGO di Bukit Lawang untuk mengevakuasi dan melakukn tindakan lanjutan terhadap anak orangutan itu," kata dia.

"Pada tanggal 1 Juli 2018 sekira pukul 17.00 orangutan itu bisa kami amankan dari induknya. Kemudian segera dibawa ke kantor seksi. Di sana terlebih dahulu otopsi yang dikoordinir oleh dokter hewan," lanjutnya lagi.

Tapi Ade tak bisa memastikan persis waktu kematian satwa langka yang dilindungi tersebut. Sebab saat ditemukan, anak orangutan itu sudah dalam keadaan tak bernyawa.

Baca juga:

Sementara Kepala Bagian Tata Usaha TNGL, Joko Iswanto menyatakan tidak menemukan luka tembak karena perburuan atau suatu penyakit pada jasad anak orangutan. Hanya saja terdapat lebam di beberapa titik pada bagian tubuh.

"Jadi bisa dikatakan itu murni kecelakaan karena memang secara alami anak orangutan itu masih dipeluk terus oleh induknya. Sementara di sana populasinya juga ada orangutan jantan yang memang lagi birahi," terang Joko.

"Lalu mungkin dalam berhubungan itu sedikit menyakiti si anak sehingga menyebabkan cedera di tubun jasad orangutan. Itu yang ditemukan oleh tim dokter hewan kita," imbuhnya.

Dia mengklaim kejadian seperti ini jarang terjadi di TNGL. Konflik antara satwa dilindungi dan masyarakat di Bukit Lawang pun kata dia tidak lagi ada.

"Karena masyarakat sudah menganggap orangutan sebagai maskot. Namun, di sekitar kecamatan dan desa tetangga Bukit Lawang beberapa kali pernah terjadi konflik karena orangutan liar menyebrang ke perkebunan masyarakat," pungkas Joko.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.