UI Rekomendasikan Penyiapan Evakuasi Massal Korban Asap

Evakuasi massal bagi korban asap diperlukan jika dalam waktu dekat hujan tidak segera turun

Jumat, 09 Okt 2015 19:04 WIB

Ilustrasi (Pemkab Bengkalis)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Pusat Riset dan Respon Bencana Universitas Indonesia merekomendasikan pemerintah segera menyiapkan evakuasi massal bagi korban asap, jika dalam waktu dekat hujan tidak segera turun. Ini lantaran gas beracun akibat kebakaran hutan dan lahan membahayakan kesehatan, bahkan bisa menyebabkan kematian. Pakar Bencana dan tim ahli Pusat Riset dan Respon Bencana UI Fatma Lestari meminta dinas kesehatan mengukur kadar konsentrasi oksigen di masing-masing daerah terdampak. Dengan begitu, pemerintah daerah mampu memastikan langkah evakuasi massal ke pulau terdekat.

"Jadi memang memerlukan pendalaman data-data kesehatan sehingga bisa dirumuskan kapan evakuasi ini diperlukan. Saat ini harus ada pengukuran konsentrasi oksigen sampai pada level berapa. Kita kan sekarang ini menghirup 20-21 persen. Di bawah 16 persen itu sudah dapat mengakibatkan gejala pusing-pusing, bahkan sampai lemas dan akhirnya pelan-pelan mengalami kematian. Takutnya nanti terlalu banyak CO2. CO sendiri juga sudah sangat mematikan plus oksigennya juga kurang. Ini kalau konsentrasi oksigennya di bawah 5 persen, bisa mengakibatkan kematian. Jadi kita harus betul-betul cek konsentrasi oksigen," jelas Fatma di Gedung Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat UI.

"Karena apabila kondisi udara sudah tidak sehat lagi, di mana hasil kebakaran itu menghasilkan gas-gas sangat toxic (beracun). Misalnya karbon monoksida yang tidak berbau dan berasa dapat menyebabkan kematian, nitrogen oksida dan sulfur dioksida yang mengakibatkan iritasi pada saluran pernapasan," ungkap Fatma dalam diskusi terbatas tentang kabut asap di UI.

Fatma juga meminta, pemerintah daerah menyiapkan teknologi penjernihan udara, paling tidak untuk skala rumah tangga. Ini dilakukan untuk menekan gas-gas beracun akibat kebakaran hutan dan lahan.

Pada 14 Oktober mendatang, tim pertama dari Universitas Indonesia berangkat ke Riau, untuk membuka posko kesehatan dan memberikan bantuan tim medis. Tim ini juga membawa 10 unit alat penjernih udara (air purifier) untuk skala rumah tangga dan sekitar 1500-an masker N95.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1