Ini Cara Efektif Memadamkan Api di Lahan Gambut Versi Pakar UI

Cara efektif pembasahan lahan gambut dapat dilakukan dengan memasukkan pipa air di kedalaman hingga tiga meter

Jumat, 09 Okt 2015 19:59 WIB

Ilustrasi (Foto: KBR/Friska K.)

KBR, Jakarta - Pemerintah Daerah di Kalimantan dan Sumatera diminta mengerahkan seluruh unit pemadam kebakaran baik milik pemerintah maupun milik perusahaan. Ini dilakukan untuk mengoptimalkan pembasahan lahan-lahan gambut yang masih menyimpan titik api. Pakar Bencana sekaligus tim ahli Pusat Riset dan Respon Bencana UI Fatma Lestari menjelaskan, sejauh ini, pembasahan merupakan cara paling efektif untuk memadamkan titik api. Ia memperinci, cara efektif pembasahan lahan gambut dapat dilakukan dengan memasukkan pipa air di kedalaman hingga tiga meter. Sumber-sumber air dapat disalurkan dengan bantuan unit mobil pemadam kebakaran.

"Beberapa industri dan perusahaan menunjukkan mereka sebenarnya sanggup membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Ini yang harus digerakkan secara massif. Industri ini segera mengeluarkan unit-unit pemadam kebakarannya dilengkapi dengan pressurised water. Cara yang efektif, pipa ditanam ke dalam, di kedalaman tiga meter kemudian ada press yang mengarah ke berbagai sudut. (Sementara ada lahan-lahan yang jauh dari sumber air, bagaimana itu?) Betul, kita bisa pakai portable fire pump dari sumber air terdekat lalu dinaikkan ke mobil unit pemadam kebakaran, kemudian baru masuk ke hutan," terang fatma kepada jurnalis dalam diskusi terbatas tentang kabut asap.

Fatma menambahkan, perusahaan minyak dan gas bumi di daerah terdampak kabut asap, misalnya Riau, memiliki unit pemadam kebakaran yang dilengkapi dengan Water Pressurized atau alat pemadam api modern. Selain itu, menurutnya, perusahaan juga memiliki tenaga terlatih untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah daerah, kata dia, harus mengoptimalkan seluruh tenaga yang dimiliki perusahaan-perusahaan tersebut. Sebab mereka juga ikut bertanggung jawab terhadap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi.

"Kalau saya lebih menganjurkan pressurized water, misalnya kurang dari pemadam kebakaran, industri dan perusahaan kan bisa membantu, bahkan teknologinya lebih mumpuni. Karena kami pernah melakukan itu. Jadi gerakkan semua pihak. Karena kalau menggunakan bahan kimia itu harus diuji-coba dulu. Karena pengalaman kami waktu menggunakan dry chemical powder, justru dia itu lah yang kembali terbakar menjadi titik api. Air itu, baik water bombing ataupun hujan buatan jauh lebih baik dan efektif dibandingkan menggunakan chemical powder yang justru memicu kembalinya api," ungkap Fatma.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tengah mencari cara lain memadamkan kebakaran lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan. Yakni dengan menggunakan bahan kimia yang bisa menurunkan temperatur hotspot secara drastis dan tidak menimbulkan asap. Kepala BNPB Willem Rampangilei menyatakan, bahan kimia itu masih diujicoba pekan ini. Jika nantinya berhasil, BNPB  akan memesan 40 ton. Ia menambahkan, penggunaan bahan kimia ini akan diusulkan kepada Presiden Jokowi agar disetujui. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1