Bencana Asap, UI Tawarkan Teknologi Penjernih Udara Sederhana

Masyarakat bisa membuat sendiri dengan menyiapkan sejumlah peralatan sederhana.

Jumat, 09 Okt 2015 19:28 WIB

Pakar kimia Universitas Indonesia Agustino Zulys menunjukkan alat penjernih udara sederhana buatanny

Pakar kimia Universitas Indonesia Agustino Zulys menunjukkan alat penjernih udara sederhana buatannya (Foto: KBR/Ika M.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Universitas Indonesia membikin sebuah teknologi penyerap asap yang mampu menjernihkan udara di daerah terdampak kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan. Penemu teknologi ini, sekaligus pakar kimia Universitas Indonesia Agustino Zulys mengatakan, alat penjernih udara ini dapat digunakan hanya untuk skala rumah tangga.

Ia menjelaskan, masyarakat juga bisa membikin secara mandiri teknologi ini. Caranya, dengan menyiapkan sejumlah peralatan sederhana. Di antaranya pompa penyedot udara, selang, tabung penyerap dan zat yang akan menangkap partikel berbahaya dalam asap (absorber). Zat penyerap itu bisa berupa Zeolit, Karbon Aktif ataupun Bentonit.

"Ini alatnya sederhana saja, ada pompa yang akan menyedot udara di sekitar. Jadi cara kerjanya, udara yang tersedot nanti akan terserap atau tersaring (partikel beracunnya) oleh absorber yang berupa zeollit, karbon aktif atau bentonit. Kemudian udara yang sudah bersih akan keluar melalui pompa, saluran yang satu lagi. Jadi kita bisa lihat, harapan kita dalam satu hari di ruangan itu udaranya sudah bersih," jelas Agus kepada jurnalis di gedung Universitas Indonesia.

Agustino menambahkan, teknologi penyerap asap ini baru berupa purwarupa. Nantinya, tim ahli akan memodifikasi ulang agar teknologi tersebut mudah dibawa ke manapun (portable) dan dapat dinikmati publik. Universitas Indonesia berencana bekerja sama dengan pemerintah untuk memperbanyak teknologi ini.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan, zat penjerat partikel beracun yang terkandung dalam asap sebenarnya banyak ditemukan di alam sekitar. Ia mencontohkan, selain zat kimia yang disebutkan tadi, masyarakat juga bisa menggunakan ampas tebu, tempurung kelapa, atau sekam sebagai penyerap partikel beracun. Selebihnya, warga bisa membeli pompa penyedot udara yang dijual bebas di pasaran dengan kisaran 500 ribu rupiah.

Editor: Rony Sitanggang
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1