[Advertorial] Laskar Bayaran: Ketika Korporasi Global Menguasai Sebuah Negara

Lakon ini dipentaskan dengan menggunakan elemen wayang listrik karya I Made Sidia yang megah dan kaya ekspresi visual. Pentas ini juga diperkaya dengan musik yang ditata oleh Balawan, musisi asal Bali

Jumat, 11 Agus 2017 09:36 WIB

Sebagai rekaman sejarah dan kebudayaan, wayang merupakan satu wujud nyata yang unik dan otentik dari Lintas Benua, Silang Budaya. Bermula dari kisah Mahabarata dan Ramayana, wayang mengalami perkembangan gagasan dan tafsir dari waktu ke waktu.

Sejarah wayang yang panjang telah menandai proses akulturasi dari generasi ke generasi dengan beragam pendekatan kebudayaan. Di Indonesia, I Made Sidia dalang wayang asal Bali, adalah sosok yang dapat menggambarkan bagaimana wayang dapat dipresentasikan secara modern tanpa menghilangkan filosofinya. Mengikuti jejak I Made Sidja alias Bapa Sidja, sang ayah yang sudah dikenal lama sebagai seniman Bali, I Made Sidia dan kini juga anaknya, I Kadek Sugi Sidiarta, akan merespons wayang dengan teknik yang berbeda. Generasi dalang ini akan tampil pada pertunjukan Indonesia Kita ke-25 dalam lakon berjudul Laskar Bayaran.

Agus Noor, sutradara dan penulis naskah menyatakan, “Ini akan menjadi pertunjukan yang beda. Indonesia Kita mengundang Putu Fajar Arcana untuk terlibat dalam proses kreatif pementasan ini. Ragam bentuk, gaya panggung dan cerita dipentaskan secara lebih modern dengan tata artistik yang kuat. Melalui Tiga Generasi Sidia akan terlihat bagaimana wayang berkembang dari generasi ke generasi”.


Lakon Laskar Bayaran

Laskar Bayaran dipentaskan dengan gaya futuristik. Berlatar tahun 2099, ketika korporasi global bernama “Paradize Capitol Corporation” menguasai sebuah negara dan rakyat hidup dalam koloni yang serba tertib. Persoalan hidup sehari-hari, cinta, pikiran sampai kegiatan ritual, diatur secara ketat dan dikenai pajak oleh Paradize Capitol Corporation. Untuk menjaga ketertiban itu, Paradize Capitol Corporation membentuk Laskar Bayaran, yang bertugas mengawasi dan mengontrol kehidupan rakyat. Laskar Bayaran tak segan-segan, bahkan mengurusi soal-soal seputar ritual keagamaan, hingga dunia roh-roh. Di negeri koloni itu, roh pun harus membayar pajak.

Di tengah kehidupan yang serba tertib itu, ada satu wilayah yang belum tertaklukkan oleh Paradize Capitol Corporation, sebuah daerah misterius dan gaib bernama Hutan Gandamayu, yang dihuni para roh leluhur. Di hutan ini masih tersisa romantisme masa silam. Ada ekspatriat yang hidup damai di Hutan Gandamayu dan disebut sebagai The Last Bules. The Last Bules dijaga agar tidak punah. Sebab kepunahan berarti kehilangan asset turisme. Tanpa para The Bules, segala jenis ritual warisan leluhur tak akan pernah bisa diwariskan.

Hutan Gandamayu dianggap sebagai wilayah terlarang oleh Paradize Capitol Corporation, sebab hutan gaib itu digunakan rakyat sebagai tempat untuk melakukan perlawanan. Rezim Paradize Capitol Corporation menganggap mereka yang tinggal di Hutan Gandamayu sebagai para pemberontak. Laskar Bayaran digerakkan untuk menaklukkan para pemberontak itu.

Berbagai siasat dan intrik dijalankan untuk menghentikan perlawanan. Kejutan demi kejutan bermunculan, dan akhirnya membuka apa yang sebenarnya disembunyikan di balik siasat dan intrik itu.

Lakon Laskar Bayaran ini dipentaskan dengan menggunakan elemen wayang listrik karya I Made Sidia yang megah dan kaya ekspresi visual. Pentas ini juga diperkaya dengan musik yang ditata oleh Balawan, gitaris asal Bali yang dikenal memiliki “magic finger” serta Balawan Gamelan Fusion.

Bersama seniman asal Bali, pentas Indonesia Kita ke-25 akan meneropong Indonesia hari ini, dan masa depan…

Program Indonesia Kita 2017. Lintas Benua Silang Budaya

Pentas ke : 25

Judul Pentas           : Laskar Bayaran
Jadwal                    : Jumat, 25 Agustus 2017, Pukul 20.00 WIB
                                Sabtu, 26 Agustus 2017, Pukul 20.00 WIB
Venue                     : Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya 73, Jakarta
Tim Kreatif              : Putu Fajar Arcana, Butet Kartaredjasa, Agus Noor, Djaduk Ferianto
Naskah & Sutradara  : Agus Noor
Penata Artistik         : Ong Hari Wahyu
Dalang                     : I Made Sidia, I Kadek Sugi Sidiarta
Musik                       : Balawan & Balawan Gamelan Fusion
Pemain                    : Lola Amaria, Balawan, Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Agung Ocha, Angelina Arcana, Jean Couteau, Pino Confessa, Trio GAM (Gareng, Wisben, Joned), Anggis Devaki, Melyananda, dan Clekontong Mas

HTM Laskar Bayaran:
UTAMA Rp. 1.000.000, PLATINUM Rp. 750.000, VVIP Rp. 500.000,
VIP Rp. 300.000 BALKON Rp. 200.000

Kayan Production & Communications 0838 9971 5725 / 0856 9342 7788 / 0813 1163 0001
Dan Blibli.com


Sekilas Tentang Indonesia Kita

Indonesia Kita mulai menggelar pertunjukan sejak tahun 2011, dan sejak itulah pentas-pentas yang diadakan menjadi “laboratorium kreatif” bagi kalangan seniman, baik lintas bidang, lintas kultural dan lintas generasi. Dari satu pentas ke pentas lainnya, pada akhirnya mengkristal menjadi sebuah ikhtiar untuk semakin memahami bagaimana proses “menjadi Indonesia”.

Sebagai sebuah bangsa, Indonesia adalah sebuah “proses menjadi”, yakni sebuah proses yang terus menerus diupayakan, proses yang tak pernah selesai, untuk mencapai apa yang menjadi cita-cita bersama, yaitu menjadi 'sebuah bangsa yang berkebudayaan’.

Indonesia Kita telah menjadi sebuah forum seni budaya yang bersifat terbuka, yang mempercayai jalan seni dan kebudayaan sebagai jalan yang sangat penting untuk mendukung 'proses menjadi Indonesia” itu. Terlebih-lebih ketika Indonesia hari ini seperti rentan dan penuh berbagai persoalan, maka merawat semangat ke-Indonesia-an menjadi sesuatu yang harus secara terus-menerus diupayakan.

Indonesia Kita yang secara berkala dan rutin diselenggarakan, pada akhirnya telah mampu meyakinkan penonton untuk melakukan apa yang seringkali disebut oleh Butet Kartaredjasa, sebagai “ibadah kebudayaan” yakni semangat untuk bersama-sama mendukung dan mengapresiasi karya seni budaya. Pentas-pentas Indonesia Kita mendapat apresiasi yang baik, tanggapan positif, dan mampu menjadi ruang interaksi tidak hanya antara seniman dan masyarakat penonton, melainkan juga antara penonton dan penonton. Sebuah komunitas kultural terbentuk, di mana penonton kemudian menghadiri pentas-pentas Indonesia Kita, sebagai wujud dari “ibadah kebudayaan”.
Jangan Kapok Menjadi Indonesia. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau