[Advertorial] Peduli TBC, Indonesia Sehat

Berdasarkan laporan WHO 2017 diperkirakan ada 1.020.000 kasus di Indonesia, namun belum separuhnya terlaporkan ke Kementerian Kesehatan

Senin, 26 Mar 2018 13:31 WIB

Hari Tuberkulosis (TBC) Sedunia diperingati setiap tanggal 24 Maret bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa TBC sampai saat ini masih menjadi epidemi di dunia.

Tema tahun ini, yakni "Peduli TBC, Indonesia Sehat" bermaksud untuk meningkatkan kepedulian dan peran serta seluruh pemangku kebijakan dan masyarakat dalam mendukung Eliminasi TB di Indonesia serta menempatkan TBC sebagai isu penting di semua sektor pembangunan. Hal ini sejalan dengan tema global Hari Tuberkulosis Sedunia tahun ini yaitu "Wanted: Leaders for a TB-free world. You can make history. End TB".

Berdasarkan laporan WHO 2017 diperkirakan ada 1.020.000 kasus di Indonesia, namun belum separuhnya terlaporkan ke Kementerian Kesehatan. Karena itu, gerakan Temukan Obati Sampai Sembuh (TOSS) TBC sangat dibutuhkan, perlu dipahami dan dilakukan oleh seluruh masyarakat.

"Fokus pencegahan dan pengendalian TBC adalah penemuan kasus dan pengobatan. Tolong temukan penderita TBC, diobati sebaik-baiknya. Sampai sembuh, betul-betul harus sampai sembuh agar terhindar dari resistensi", tutur Menteri Kesehatan RI, Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek, pada puncak peringatan Hari TBC Sedunia di Monas, Sabtu pagi (24/).

Maka dari itu, salah satu rangkaian peringatan Hari TBC Sedunia tahun ini merupakan kegiatan penemuan aktif di lapangan, dimana kader dan petugas di 34 Provinsi sejak minggu I hingga III Maret 2018, telah melakukan upaya Ketuk Pintu (mendatangi langsung ke rumah-rumah) untuk melakukan pemeriksaan gejala TBC dari kontak pasien.

Dari kegiatan tersebut ditemukan 20.909 terduga TBC dan 1.857 di antaranya terbukti TBC. Ini merupakan salah satu kerja sama nyata masyarakat dan petugas dalam menemukan kasus TBC.

Pada peringatan Hari TBC Sedunia tahun ini di Monumen Nasional Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek, mengapresiasi Deklarasi Komitmen PKK seluruh Indonesia dalam Pencegahan TBC yang dibacakan oleh Ketua Umum Tim Penggerak PKK Erni Guntarti Tjahjo Kumolo.

Menkes Nila Moeloek, didampingi Ketua Penggerak PKK Pusat, Deputi Bidang Kesehatan Kemenko PMK dan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes juga menyerahkan beberapa penghargaan, antara lain: 

  1. Penghargaan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang telah melakukan inovasi dan memberikan alokasi anggaran yang meningkat untuk penanggulangan TBC kepada Dinkes Kabupaten Sumba Timur NTT, Dinkes Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan, dan Dinkes Kab. Lembata NTT; 
  2. Penghargaan kepada Rumah Sakit Terbaik yang melaporkan data TBC sesuai dengan bebannya yang tinggi kepada RSUD dr. M. Ansari Saleh Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan, RSUD Nabire Papua, dan RSUD Jayapura Papua;
  3. Penghargaan bagi Puskesmas Tuberkulosis Terbaik tingkat nasional kepada Puskesmas Dobo Kab. Aru Maluku, Puskesmas Rijali Kota Ambon Maluku, dan Puskesmas Tinambung Kab. Polewali Mandar Sulawesi Barat;
  4. Penghargaan bagi Kader Tuberkulosis Terbaik yang telah berkontribusi tinggi untuk menemukan dan merujuk terduga TBC ke Puskesmas, yaitu Maria Yasinta Seu dari Kab. Belu NTT, Sri Puluh Handayani merupakan Kader Aisyiyah Sleman DIY, dan Yuyun Ernawati dari Kab. Pasuruan Jawa Timur.

Pada momen yang sama, Deputi Bidang Kesehatan Kemenko PMK, Sigit Priyohutomo menyerahkan 15 alat monitoring pengobatan TBC resisten obat (RO) berupa mesin audiometri dan EKG kepada RS milik Pemerintah.

Kelima belas RS Pemerintah tersebut, yaitu: RSUD Zaenoel Abidin Banda Aceh; RSUP Adam Malik Medan Sumatera Utara; RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Riau; RSUD Embang Fatimah Batam Kepulauan Riau; RSUP dr. M. Husein Sumatera Selatan; RSUP Persahabatan DKI Jakarta; RS Pusat Infeksi Sulianti Saroso, DKI Jakarta; RSUP Hasan Sadikin Bandung Jawa Barat; RS Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua, Jawa Barat; RSUP Dr. Karyadi Semarang, Jawa Tengah; RSUD Dr. Soetomo Surabaya Jawa Timur; RSUP Sanglah Denpasar Bali; RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado Sulawesi Utara; RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar Sulawesi Selatan; dan RSUD Dok II Jayapura, Papua. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.