Upaya Naikkan Populasi Unta India yang Menyusut Tajam

Pemerintah negara bagian Rajasthan telah melarang pembantaian dan ekspor unta.

Senin, 04 Des 2017 08:00 WIB

Unta dulunya merupakan bagian integral dari kehidupan gurun, sebagai alat transportasi di padang pas

Unta dulunya merupakan bagian integral dari kehidupan gurun, sebagai alat transportasi di padang pasir India. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Negara bagian Rajasthan di India dikenal karena gurun dan kawanan unta yang melintasinya.

Unta adalah binatang khas negara bagian itu. Tapi jumlah mereka berkurang dengan cepat dan ada kekhawatiran populasinya terancam.

Koresponden Asia Calling, Jasvinder Sehgal, berkunjung ke pertemuan Global Rajasthan Agritech di Udaipur, Rajasthan, untuk mengetahui hal ini lebih lanjut.

Dua unta menghentak-hentakkan kuku mereka mengikuti ketukan drum. Keduanya dihiasi dengan sadel berwarna oranye, cincin hidung dan lonceng kecil yang terikat di kaki.

Kanjo seorang penari berusia 35 tahun sedang menari bersama unta-unta itu.

“Bagi unta-unta in saya hanya seperti pendukung tapi bagi saya mereka seperti Dewa. Saya mencintai, menghormati dan menyembah mereka. Dan saya tidak bisa hidup tanpa mereka; Saya mengandalkan mereka untuk mencari nafkah,” ungkap Kanjo.

Kanjo menyanyikan sebuah melodi untuk memuji untanya. Seperti banyak orang di Rajasthan, dia menghormati unta sama seperti penganut Hindu menyembah sapi.

Mereka yang membawa unta-unta ke acara pertanian ini adalah Raika, sebutan kasta khusus peternak unta. Mereka percaya diciptakan oleh Dewa Siwa untuk menjadi penjaga unta. Mereka menyembah Dewa unta bernama Prabuji.

80 persen unta India berada di negara bagian Rajasthan. Unta sangat penting untuk seni dan budaya di kawasan ini. Ada ratusan cerita rakyat, dongeng dan puisi yang didedikasikan untuk hewan ini.

Di acara ini, para pemilik unta datang membawa berbagai jenis unta yang dijinakkan.

Jagdeesh Raibari yang berusia 56 tahun telah memelihara unta sejak dia masih kecil. Hari ini, dia berbagi keprihatinannya dengan banyak orang di sini.

“Sebelumnya keluarga saya punya 150 unta tapi sekarang jumlahnya jauh berkurang. Memelihara unta tidak lagi menguntungkan. Orang muda kita mencari pekerjaan baru karena mereka tidak bisa mendapatkan uang dari unta,” tutur Jagdeesh.

Dalam beberapa dekade terakhir, kehidupan Raika atau peternak unta makin berat. “Area penggembalaan unta menyusut dan jumlah unta makin sedikit,” katanya.

Penebangan hutan, urbanisasi dan perubahan iklim telah mengganggu lahan penggembalaan. Selain itu penyakit juga berdampak besar pada populasi hewan berpunuk itu.

Unta dulunya merupakan bagian integral dari kehidupan gurun, sebagai alat transportasi di padang pasir India. Mereka juga dipelihara secara khusus oleh para raja.

Tapi dalam beberapa dekade terakhir, peran unta tergantikan dengan skuter gurun, mobil dan truk.


Sampai tahun 1990an, ada sekitar satu juta unta di Rajasthan. Tapi menurut perkiraan saat ini, jumlah mereka turun menjadi kurang dari dua ratus ribu ekor.

“Pelaku pembantaian unta terancam hukuman penjara tidak kurang dari satu tahun dan bisa diperpanjang hingga lima tahun,” jelas Narender.

Ini adalah Dr. Narender Singh, penanggung jawab lembaga konservasi unta di pemerintahan negara bagian.

Sebagai upaya menyelamatkan unta, pemerintah negara bagian Rajasthan telah melarang pembantaian dan ekspor unta. Mereka mengangkat unta ke status yang sama dengan sapi suci India.

Tapi pemilik unta mengatakan aturan ini belum membawa dampak yang diharapkan. Jumlah unta tetap terus menurun.

“Kami menuntut agar pemerintah negara bagian setidaknya mengizinkan ekspor unta jantan. Jika tidak, jumlah mereka akan terus menurun. Pemilik unta akan berhenti membesarkan mereka karena sudah tidak layak secara ekonomi,” tutur Hanwant Singh Rathore, direktur Liga Gembala. 

Dia telah berkampanye untuk perlindungan unta selama 25 tahun terakhir. Dia berpendapat jika ekspor unta tetap dilarang, unta yang diternakan tidak akan bernilai ekonomi. Ini akan menyebabkan para peternak muda pindah ke kota mencari pekerjaan lain.

Dia pun menyarankan strategi baru. “Penggunaan susu unta sebagai obat telah membuatnya sangat populer sehingga peluang bisnis baru bisa dieksplorasi,”usul Rathore.

Kembali ke pertemuan pertanian itu. Udara dipenuhi aroma harum rebusan teh di kompor tua.

Peternak unta bernama Seeta Devi membagikan teh susu unta sekaligus mempromosikan manfaatnya bagi kesehatan.

“Susu unta punya manfaat kesehatan seperti asma, tuberkulosis, diabetes dan mengatur kadar gula darah,” jelas Seeta.

Saat ini susu unta menjadi makanan kesehatan dan dijual dengan harga premium secara internasional.


Narender Singh berpendapat susu dan produk unta lainnya harus dipromosikan. Ini bisa memberi insentif baru bagi peternak untuk terus beternak unta.

“Cokelat susu unta sangat populer di kalangan anak muda. Kertas, tikar wol dan karpet buatan tangan serta obat nyamuk yang terbuat dari kotoran unta, mulai masuk ke pasar-pasar perkotaan,” kata Narender.

Menjual produk-produk baru unta mungkin bisa jadi insentif finansial bagi para peternak muda unta. Tapi mereka masih harus berjuang menghadapi tantangan perubahan iklim dan kehancuran padang pasir yang lebih besar.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Kuasa Hukum Tak Bisa Janjikan Setnov Hadir di Sidang Tipikor Besok

  • Kakorlantas: Tim Pengkaji Pemindahan Ibu Kota Negara Masih Bekerja
  • Disnaker Sulut: Perusahaan Jangan Lupa Bayar THR
  • Lakukan Percobaan Penyuapan, Ketua DPRD Halteng Ditahan