Kelompok Adat di India Berjuang Selamatkan Hutan dan Makanan

Orang Khond adalah pemburu dan pengumpul.

Senin, 09 Okt 2017 08:10 WIB

Perempuan Kondh. (Foto: Kalpana Pradhan)

Perempuan Kondh. (Foto: Kalpana Pradhan)

Di negara bagian India, Odisha, komunitas Kondh, sebuah komunitas Adat yang cukup besar, kehilangan hutan dan sumber makanan mereka. Perkebunan jati dan ekaliptus merambah tanah yang telah lama menjadi sumber makanan mereka yang beragam dan bergizi.

Tapi keluarga-keluarga Kondh tidak tinggal diam dan melawan ancaman terhadap kehidupan mereka. Dari Roygada, di Odisha, Koresponden Asia Calling KBR, Kalpana Pradhan, menyusun cerita berikut ini. 

Bukit hijau yang subur membentang sejauh mata memandang saat kami menyusuri jalan bergelombang menuju desa Khalpadar. Desa Ini terletak di bagian selatan Odisha, yang sebelumnya dikenal sebagai Negara Bagian Orissa.

Perbukitan ini adalah rumah bagi suku Dongria Kondh, yang secara tradisional membantu memelihara hutan lebat serta margasatwa yang beragam di daerah ini.

Kami sampai di desa Khalpadar yang terletak di kaki bukit. Tampak sekelompok perempuan Kondh sedang duduk bersama, berbincang dan bernyanyi. Orang Khond adalah pemburu dan pengumpul. 

Shukumoti Shikoka mengatakan kepada saya hutan itu adalah sumber kehidupan mereka. Karena itu orang Khond sangat melindunginya.

“Kami melindungi hutan bukan hanya karena memberi kami makanan. Tapi juga karena di sana tinggal banyak makhluk hidup, binatang, seperti semut, monyet, dan lainnya. Dan mereka semua adalah bagian dari kehidupan kami,” tutur Shukumoti.

Orang Khond secara teratur mengumpulkan buah dan akar dari hutan. Mereka juga menanam sayuran, jawawut, kacang polong dan jagung di daerah itu.

Tiap kali setelah panen, mereka menyimpan dan bertukar benih untuk memastikan adaptasi dan ketersediaannya. Mereka juga menanam berbagai macam tanaman yang berguna untuk menjaga kesuburan tanah

“Ketika kami menanam sesuatu, itu bukan hanya untuk kami, tapi juga untuk semua makhluk di hutan yang kami anggap sebagai keluarga. Selama hutan itu ada, kami akan terus makmur,” kata Shukumoti. 

Odisha adalah salah satu negara termiskin di India Timur. Jumlah orang Khond di sini mencapai seperempat dari jumlah keseluruhan penduduk. Tapi Shukumoti mengatakan orang Khond secara tradisional sangat makmur.

“Kami sebagai sebuah komunitas, sebagai kelompok kesukuan adalah komunitas paling makmur di dunia. Itulah yang kami percayai.”

Ketika saya melakukan perjalanan ke desa-desa di wilayah Muniguda, saya melihat sebidang tanah terbuka yang luas.

Sejak 2013, Kementerian Kehutanan Negara Bagian Odisha telah mengubah ekosistem yang beragam menjadi zona penanaman tanaman spesies tunggal. Hutan dibersihkan dan diganti dengan tanaman ekaliptus, jati, karet dan kopi. 

Pemerintah Negara Bagian Odisha berencana untuk melanjutkan bentuk perkebunan semacam ini sampai tahun 2022. Inisiatif ini diharapkan menciptakan 45 ribu pekerjaan selama periode sepuluh tahun.

Tapi warga desa bernama Landi Shikoku tidak ingin disuruh berpindah dari cara hidup swasembada menjadi pekerja perkebunan untuk mendapat uang. 

“Dinas kehutanan datang kemari dan mengatakan mereka ingin menanam pohon ekaliptus dan jati. Kami bertanya kepada mereka, nilai tambah apa yang kami dapat? Ini tidak ada untungnya bagi kami atau kehidupan di hutan. Jadi kami menolaknya,” kata Landi.

Mengantisipasi kekurangan makanan yang akut di masa depan, para perempuan Khond mengadukan masalah ini ke pejabat pemerintah.

Selain itu mereka juga mengatasi masalah ini sendiri. Sebagai tindakan perlawanan, penduduk desa telah menebang jati dan ekaliptus dan menggantinya dengan tanaman tradisional.

“Karena sebagai penghuni hutan, pohon buah seperti kurma, nangka, mangga, dan berry sangat berharga bagi kami dan hewan lain di hutan. Kami sangat menentangnya dan akan melawan sekuat tenaga,” tekad Landi. 

Beberapa penduduk asli telah ditangkap saat demonstrasi menentang perkebunan tanaman pangan. Dan tahun lalu, dua orang dari kelompok suku Nabarangpur terbunuh saat mempertahankan tanah mereka.

Orang-orang Khond diberi tahu kalau mereka akan bisa mendapatkan beras, gandum, dan kacang-kacangan bersubsidi di bawah program keamanan pangan pemerintah. Tapi itu tidak akan cocok dengan variasi dan nutrisi makanan tradisional mereka.

Salome Nadimidodde adalah peneliti nutrisi. Dia sudah 20 tahun mempelajari budaya makanan suku asli India. Dia pun menyaksikan adanya penurunan dalam pola makan orang Khond.

“Mereka mengumpulkan banyak sayuran hijau, jamur, umbi, buah dan sejumlah hewan termasuk serangga dan cacing. Mereka benar-benar tahu bagaimana dan kapan harus panen dan apa yang harus ditinggalkan untuk regenerasi. Kesehatan dan status gizi masyarakat saat ini sangat menyedihkan,” papar Salome.

Adivasi atau masyarakat kesukuan di Odisha sudah merasakan dampak kehancuran ekologis.

Sekitar 46 persen anak di bawah lima tahun punya berat badan kurang dan pertumbuhannya terhambat, sementara 17 persen sangat kurus. Ini menurut studi yang dilakukan Unicef dan Kementerian Perempuan dan Anak tahun 2014.

Shikoka Shiromoti adalah ibu dengan tiga anak. Dia mengatakan bisa melihat bagaimana gizi buruk bisa mengambil korban.

“Anak-anak kami yang bersekolah di luar dan tinggal di asrama, makan nasi, kentang, dan kacang-kacangan. Ini melemahkan tubuh mereka. Mereka tidak mampu bekerja keras karena sangat lemah dan mudah sakit,” jelas Shikoka. 

“Kami tumbuh dan makan berbagai jenis jawawut, kacang-kacangan, minyak dan biji-bijian yang memberi kekuatan pada tubuh kami. Orang-orang kami bisa mendaki dari satu gunung ke gunung yang lain dan berjalan bermil-mil tanpa lelah. Tapi anak-anak sekarang tidak bisa.”

Tapi orang Khond tidak menyerah. Ketika saya meninggalkan daerah itu, saya mendengar penduduk desa menyanyikan lagu tradisional. Ceritanya tentang janji untuk mendedikasikan hidup mereka untuk melindungi hutan.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Vaksinasi Ulang Difteri, Kemenkes Prioritaskan Daerah Lokasi Asian Games

  • 3 Warga Situbondo Terjangkit Difteri
  • Pengungsi Banjir Aceh Utara Krisis Obat-obatan
  • Pemprov Jakarta Akan keluarkan Pergub Untuk Tanggul Jakarta

Indonesia kini juga menjadi role model dalam hal pengembangan Buku Kesehatan Ibu dan Anak